Dalam gelap dan dinginnya malam, warga bertahan dengan ketakutan. Tak sedikit dari mereka yang terus menangis dan berteriak meminta pertolongan karena masih terjebak di rumah atau terpisah dari keluarga.
“Malam hari banyak orang teriak-teriak minta tolong, semua menangis,” tuturnya.
Baca Juga: Momen anak-anak pengungsi Aceh ‘paksa’ relawan makan roti bareng: Kita makan bersama om
Terpaksa minum air lumpur yang diendapkan
Setelah banjir sedikit mereda, penderitaan warga belum berakhir. Minimnya bantuan logistik di awal bencana membuat mereka harus bertahan dengan apa pun yang tersedia.
“Kami minum air, air lumpur, kami endapkan,” ucap warga tersebut.
Air yang tercemar lumpur dan material banjir terpaksa dikonsumsi demi menyambung hidup. Risiko kesehatan harus dihadapi karena tidak ada pilihan lain.
Kelaparan, makan sedikit untuk ramai-ramai
Selain krisis air bersih, rasa lapar menjadi musuh yang nyata. Tanpa persediaan makanan, warga hanya bisa memasak sedikit bahan makanan yang tersisa dan membaginya bersama-sama.
Baca Juga: Viral di Hari Ibu, polisi izinkan anak peluk ibunya yang sedang ditahan
“Enggak makan kami bang, kelaparan,” lanjutnya.
“Masak sedikit untuk ramai-ramai, satu orang sedikit-sedikit.”
Kondisi tersebut menggambarkan betapa sulitnya warga bertahan di hari-hari awal pascabencana.
Minta tolong dari atas jembatan
Dalam kepungan air dan gelapnya malam, warga hanya bisa berharap pada orang-orang yang berada di titik aman.
Artikel Terkait
Viral air banjir Aceh Tamiang diduga bercampur solar, warga temukan lapisan minyak mengambang
Jalan kaki 9 jam demi sembako, kisah ibu di Tapanuli Tengah buka wajah buram distribusi bantuan bencana
Warga Desa Simaninggir Tapteng rela lewati jalanan hutan yang curam dan licin demi menjemput bantuan
Warga Aceh di tengah banjir tunjukkan solidaritas untuk Gaza, ungkap kesedihan yang lebih besar
Jembatan putus, Desa Sekumur Aceh Tamiang terisolasi: Warga tinggal di terpal dan butuh tenda layak
Momen anak-anak pengungsi Aceh ‘paksa’ relawan makan roti bareng: Kita makan bersama om
Krisis air bersih pascabanjir, warga Aceh Tamiang terpaksa gunakan air sumur keruh demi bertahan hidup