Warga Desa Simaninggir Tapteng rela lewati jalanan hutan yang curam dan licin demi menjemput bantuan

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 21 Desember 2025 | 19:58 WIB
Warga Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah harus melewati hutan untuk mengambil bantuan (Instagram/rizkisiahaan_)
Warga Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah harus melewati hutan untuk mengambil bantuan (Instagram/rizkisiahaan_)

GENMILENIAL.ID — Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 lalu masih menyisakan persoalan serius, terutama terputusnya akses jalan bagi warga terdampak.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Simaninggir, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, yang hingga kini harus berjuang ekstra demi mendapatkan bantuan pascabencana.

Akses jalan utama menuju desa tersebut belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, distribusi bantuan logistik hanya mampu mencapai titik-titik tertentu.

Dari lokasi itu, warga terpaksa menjemput sendiri bantuan dengan berjalan kaki melewati jalur alternatif yang jauh dari kata aman.

Baca Juga: Kang Rey tegaskan rekrutmen industri Subang tanpa 'Jatah-jatahan', siapkan sistem satu pintu terintegrasi

Lewati hutan curam dan licin

Jalur yang harus ditempuh warga Desa Simaninggir bukanlah jalan biasa.

Mereka harus melewati kawasan hutan dengan kontur tanah yang curam, licin, dan rawan terpeleset, terutama saat kondisi tanah masih basah akibat hujan.

Dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @rizkisiahaan_ pada Sabtu, 20 Desember 2025, terlihat perjuangan warga saat membawa bantuan logistik dari posko.

Dalam keterangan video tersebut disebutkan, seorang ibu tertinggal dari rombongan ketika memanggul setengah karung bantuan.

Baca Juga: Jalan kaki 9 jam demi sembako, kisah ibu di Tapanuli Tengah buka wajah buram distribusi bantuan bencana

“Ibu ini tertinggal dari rombongan, perjuangan warga Desa Simaninggir membawa bantuan,” tulis akun tersebut dalam keterangannya.

Pada video itu tampak warga harus berpegangan pada batang pohon dan saling membantu agar bisa mendaki jalur hutan.

Jalan beraspal baru bisa dilalui setelah mereka melewati hutan dan ladang di bagian atas, menandakan betapa terisolirnya wilayah permukiman warga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X