Jalan kaki 9 jam demi sembako, kisah ibu di Tapanuli Tengah buka wajah buram distribusi bantuan bencana

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Minggu, 21 Desember 2025 | 17:46 WIB
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang harus berjalan sembilan jam untuk mendapat bantuan pascabanjir (TikTok/Apa Aja)
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang harus berjalan sembilan jam untuk mendapat bantuan pascabanjir (TikTok/Apa Aja)

GENMILENIAL.ID — Di balik derasnya solidaritas nasional pascabencana banjir yang melanda wilayah Sumatera, tersimpan realitas pahit tentang distribusi bantuan yang belum sepenuhnya merata.

Kisah seorang ibu di Tapanuli Tengah yang harus berjalan kaki selama sembilan jam demi membawa pulang bantuan sembako menjadi potret nyata beratnya hidup warga di wilayah terdampak bencana.

Perjuangan tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah akun TikTok @apa_aja pada Sabtu, 20 Desember 2025.

Dalam video itu, sang ibu terlihat memanggul bantuan logistik di pundaknya, menyusuri jalan rusak dan medan sulit akibat sisa banjir yang belum sepenuhnya surut.

Baca Juga: Viral air banjir Aceh Tamiang diduga bercampur solar, warga temukan lapisan minyak mengambang

Alih-alih bisa dijangkau kendaraan, kondisi infrastruktur pascabencana memaksa warga menggantungkan harapan hanya pada kekuatan kaki dan keteguhan hati.

Jalan yang licin, rusak, bahkan terputus menjadi rintangan harian yang harus mereka hadapi demi bertahan hidup.

Sembako dibayar dengan tenaga dan risiko

Dengan suara terengah namun tetap berusaha tegar, perempuan itu mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima, meski harus ditebus dengan perjalanan panjang yang menguras tenaga.

“Terima kasih buat sembakonya,” ucapnya singkat, sembari terus melangkah.

Baca Juga: Viral kebaikan pengungsi Aceh, berbagi rambutan untuk relawan di tengah musibah

Ia menjelaskan bahwa perjalanan pulang menuju kampungnya membutuhkan waktu hingga sembilan jam berjalan kaki.

Waktu yang bagi sebagian orang terasa mustahil, namun menjadi keseharian warga di daerah yang akses jalannya lumpuh pascabencana.

“Ini kami sudah perjalanan pulang, semoga tidak hujan ya,” ujarnya, menyiratkan kekhawatiran akan cuaca dan potensi bahaya di perjalanan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X