“Hati-hati di jalan ya kak, terima kasih,” balas warga tersebut dengan senyum tulus.
Baca Juga: Forum JPP Promedia bahas penanganan bencana Sumatera, Anggota Task Force ISI soroti peran TNI
Warga Aceh Tamiang justru menguatkan
Saat mobil pick up yang membawa Vilmei dan tim relawan hendak meninggalkan lokasi, seorang warga berlari mendekat.
Namun bukan untuk meminta bantuan tambahan, melainkan memberikan penguatan.
“Kak, kami sudah capek nangis. Jangan menangis, kami bahagia,” ucap pria tersebut.
Ucapan itu membuat Vilmei semakin terharu. Ia pun berjanji akan kembali membawa bantuan yang lebih banyak.
“Terima kasih, maafkan kami hanya membawa bantuan sedikit. Nanti kami balik lagi ya,” jawab Vilmei.
Desakan warga demi bertahan hidup
Dalam unggahan lain di hari yang sama, Vilmei juga membagikan kondisi saat pembagian bantuan berlangsung.
Terlihat warga berdesakan demi mendapatkan satu kantong sembako.
“Bapaknya tuna netra, menjadi korban banjir,” tulis Vilmei menceritakan salah satu warga penerima bantuan.
Ia menggambarkan betapa sulitnya akses jalan berlumpur yang harus dilalui relawan, sekaligus pilunya kondisi warga yang berjuang demi bertahan hidup.
Artikel Terkait
Bikin haru! Kepolosan bocah pengungsi Aceh Tamiang lompat kegirangan saat dapat bantuan baju baru
Terisolasi pascabencana, warga Sibolga tempuh 5 jam susuri gunung demi jemput bantuan logistik
Tak ada sinyal pascabencana, pria ini tempuh 66 kilometer jalan kaki dari Sibolga ke Tarutung demi kabarkan keluarga
Terisolir pascabanjir, warga Bonan Dolok Tapteng jalan kaki dan seberangi sungai demi jemput bantuan logistik
JPP Promedia bahas kerangka nasional bantuan kemanusiaan, soroti pentingnya koordinasi bencana dan peran alutsista militer
Tanpa bangku dan kursi, anak-anak pengungsi di Aceh Tengah tetap belajar di sekolah darurat pascabanjir
Forum JPP Promedia bahas penanganan bencana Sumatera, Anggota Task Force ISI soroti peran TNI