Baca Juga: Polres Subang perkuat benteng toleransi, cegah radikalisme dari desa
“Yang lainnya tidak usah, yang penting bisa shalat,” tambahnya.
Bertahan hidup di bawah terpal seadanya
Dalam cuplikan video itu, terlihat sang ibu bersama keluarganya berteduh di bawah terpal seadanya yang dipasang di atas sepeda motor rusak.
Di sekeliling mereka, puing-puing bangunan dan material sisa banjir bandang masih berserakan.
“Kami tidur di tempat yang tidak layak. Yang penting ada kain untuk menghangatkan badan,” ujarnya.
Tak hanya itu, sang ibu juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap anaknya yang harus berjalan jauh melewati medan terjal demi mencari bantuan makanan.
“Makan dan lainnya tidak usah, anak saya mencari jauh-jauh, kasihan,” tuturnya dengan suara bergetar.
Kisah ini menggambarkan betapa beratnya perjuangan para penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang.
Di balik angka statistik korban dan pengungsi, masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan, bukan hanya dalam bentuk bantuan materi, tetapi juga perhatian dan kepedulian kemanusiaan.***
Artikel Terkait
Lumpur pascabanjir hampir seatap, warga di Sumatera harus merangkak saat masuk rumah
Harunya pengungsi Aceh Tamiang: Lapar berhari-hari, tapi tetap tidak serakah saat dapat bantuan
Kayu menumpuk jadi kendala, Gubernur Aceh ungkap Tim China sulit deteksi jenazah korban banjir
3 Jam jalan kaki demi beras dan BBM: Warga Bener Meriah kerubungi mobil pengangkut minyak di tengah akses terisolasi
Rumah warga masih berlumpur, truk sawit tetap konvoi: Desakan cabut izin perkebunan ilegal menguat di Aceh
Kontur jalan Aceh Tamiang masih ‘seperti agar-agar’, warga khawatir akses tak kunjung pulih pascabanjir
Akses terisolir tak surutkan aksi kemanusiaan Assyifa Peduli di Sumatera dan Aceh