Baca Juga: OTT KPK jerat Wamenaker Immanuel Ebenezer, diduga peras perusahaan terkait sertifikasi K3
Abii terkekeh singkat, lalu menatap langit yang semakin kelabu. “Bukan sederhana, Kal. Hidup itu tetap rumit, cuma kita aja yang milih cara menafsirkan kerumitannya.”
Dan saat kereta berhenti di depan mereka, pintunya terbuka dengan desis pelan. Di tengah hiruk pikuk penumpang yang naik turun, dua manusia itu melangkah bersama.
Sementara di luar jendela, hujan mulai turun. Rintik-rintiknya mengetuk kaca seirama dengan suara roda kereta yang menggiling rel.
Jakarta yang muram semakin terasa muram. Tapi, anehnya percakapan mereka justru membuat suasana jadi hangat.
Baca Juga: KPK OTT Wamenaker Noel Ebenezer, pejabat yang juga komisaris PT Pupuk Indonesia
Niskala menatap hujan yang turun, lalu bersuara lirih, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
“Terus, gimana cara kita menghadapi komentar orang lain yang sebenernya bikin kita ngerasa terganggu, Bii?”
Abii menggeser pandangannya dari lantai ke wajah Niskala. Ada keseriusan yang jarang muncul di matanya. Ia menarik napas sejenak, seperti menimbang kata-kata agar tak sekadar jadi jawaban kosong.
“Pertama, Kal,” ucapnya pelan, “kita harus akui dulu kalau kita terganggu. Jangan pura-pura kuat. Karena semakin kita bilang ‘aku gak peduli’, tapi dalam hati kita kepikiran. Justru makin sakit. Jadi langkah awal itu menerima dulu rasa terganggunya.”
Baca Juga: Kembali ke cara alami, siwak ampuh jaga kesehatan gigi dan mulut
Niskala mengangguk, matanya tetap tertuju pada hujan yang berlari di kaca jendela. “Aku sering pura-pura gak peduli. Tapi, malah jadi beban di dalam.”
Abii tersenyum tipis. “Iya, karena luka kecil pun kalau dipendam bisa jadi infeksi. Sama kayak komentar orang. Kalau dibiarin mengendap tanpa kita urai, dia bisa tumbuh liar di kepala.”
Kereta berguncang, membuat tubuh mereka sedikit oleng. Niskala berpegangan pada tiang, lalu menoleh lagi pada Abii. “Habis itu gimana, Bii? Setelah kita ngakuin kalau kita terganggu?”
“Belajar memilah,” jawab Abii mantap. “Kita harus bedain mana komentar yang lahir dari kepedulian dan mana yang lahir dari sekadar emosi orang lain. Kalau komentar itu emang bisa bikin kita belajar, ya kita simpan. Kalau enggak … kita lepas.”
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Kota masa depan
CERPEN: Beludru merah terang itu tidak lagi bercahaya
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center