Baca Juga: 3 Kontroversi Immanuel Ebenezer yang kembali disorot usai terjaring OTT KPK
Niskala mengernyit, lalu menghela napas. “Aku sering banget ngerasa gitu. Padahal komentar orang itu cuma satu kalimat, satu pandangan, kadang bahkan cuma bercanda. Tapi, bisa nyangkut lama di kepala.”
“Karena kita terbiasa ngelihat diri lewat kaca orang lain, Kal,” jawab Abii pelan, matanya mengikuti kereta yang melintas ke arah berlawanan.
“Kalau kaca itu retak, kita ikut retak. Kalau kaca itu bening, kita ngerasa berharga. Padahal kaca itu bukan cermin asli. Tapi, Cuma pantulan sesaat yang orang lain lempar ke kita.”
Niskala menatap Abii lekat-lekat, mencoba memahami. “Jadi, kamu mau bilang komentar orang itu gak sepenuhnya benar?”
Baca Juga: Subang borong penghargaan di Bandung Marketing Week 2025, inovasi digital jadi kunci layanan publik
“Iya. Tapi, bukan berarti sepenuhnya salah juga,” sahut Abii. “Ada komentar yang bisa jadi jalan untuk belajar, ada juga yang cuma potongan emosi mereka. Masalahnya, kita sering gak bisa bedain. Kita telan semua mentah-mentah, terus kita biarin mereka mendikte siapa diri kita.”
Niskala terdiam sejenak. Di telinganya, suara gesekan roda kereta dengan rel seperti melengkapi jeda yang ia butuhkan.
“Tapi, Bii… kenapa ya rasanya susah banget buat gak peduli? Kayak, semakin aku bilang ke diriku sendiri ‘jangan ambil hati’, semakin komentar itu justru tumbuh di kepalaku.”
Abii menoleh, menatapnya dalam-dalam. “Karena kita manusia, Kal. Kita butuh diakui. Butuh dianggap ada. Dan seringkali, pengakuan itu kita cari di luar diri kita. Padahal, seandainya kita mau lebih sabar, kita akan sadar. Pengakuan paling tulus itu datang dari dalam. Dari pas kita bisa bilang ke diri sendiri, ‘aku cukup, meski tanpa pembuktian’.”
Baca Juga: Buffett bagi rahasia: Investasi mudah dengan reksa dana dan obligasi jangka pendek
Kereta berikutnya terdengar mendekat, suaranya menggema di antara tiang-tiang peron. Orang-orang di sekitar mulai bersiap, merapat ke garis kuning.
Niskala menarik napas panjang, lalu berkata lirih, “Berarti, bukan komentar orang yang bikin kita sakit, ya? Tapi cara kita ngebiarin komentar itu tinggal di kepala.”
Abii mengangguk pelan. “Betul. Komentar orang itu kayak kereta, Kal. Mereka datang, berisik, kadang bikin kita terganggu. Tapi, kalau kita gak naik, mereka cuma lewat. Gak perlu kita bawa sampai ke tujuan.”
Niskala tersenyum kecil mendengar analogi itu. Ada hangat yang menyusup di dadanya, di tengah udara dingin peron yang mulai diterpa angin hujan. “Kamu selalu bisa bikin sesuatu yang rumit jadi sederhana, Bii.”
Artikel Terkait
Forum Diskusi Sastra Meja Panjang, kembali gelar diskusi episode ketiga dengan tema Jakarta Kita dan Sastra
Bagaimana memulai ide menulis? panduan bagi penulis sastra
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
CERPEN: Kota masa depan
CERPEN: Beludru merah terang itu tidak lagi bercahaya
CERPEN: Negeri di atas meja siap saji
Subang Nyastra Volume 4 hadirkan bincang dan pentas sastra di Subang Creative Center