CERPEN: Lepasin aja, Kal

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 20:43 WIB
Ilustrasi - Lepasin aja, Kal
Ilustrasi - Lepasin aja, Kal

Baca Juga: Dari baking soda hingga reed diffuser, cara simpel usir bau apek di ruangan

“Lepas?” ulang Niskala, seolah kata itu sulit.

“Lepas, Kal. Kayak hujan di luar sana. Kalau kamu lihat, dia turun deras. Kadang banjir, kadang bikin macet. Tapi, kamu gak bisa larang hujan turun, kan? Sama aja kayak komentar orang. Kita gak bisa kontrol mulut mereka. Yang bisa kita atur cuma cara hati kita nerima atau melepas.”

Niskala terdiam. Kata-kata itu masuk perlahan, menyusup seperti udara dingin yang ikut terbawa angin hujan.

Abii menambahkan, suaranya lebih lembut, hampir seperti bisikan yang hanya untuk Niskala seorang.

“Kalau semua komentar orang kita tampung, kepala kita bisa penuh. Kita bisa kehilangan diri sendiri. Jadi, caranya adalah pilih, mana suara yang emang bikin kita bertumbuh, mana yang cuma bikin kita layu. Sisanya … biarin aja lewat. Kayak kereta ini. Mereka datang, berisik, tapi kalau bukan tujuan kita, ya udah … biarin pergi.”

Baca Juga: Ketua MPR bantah isu periode jabatan presiden menjadi 8 tahun

Niskala menunduk sejenak, lalu menatap Abii dengan mata yang agak berkaca. “Kenapa kedengarannya gampang kalau kamu yang ngomong, Bii? Tapi pas aku yang ngalamin, rasanya kayak berat banget.”

Abii tersenyum tipis, menatap balik dengan penuh pengertian. “Karena aku pun pernah ngerasain, Kal. Aku tahu gimana rasanya dihantam komentar yang bikin hancur. Tapi aku belajar … kalau aku biarin mereka tinggal di kepalaku, aku yang akan hilang. Dan aku gak mau hilang cuma karena suara orang lain. Aku masih mau jadi diriku sendiri, meski gak semua orang suka.”

Hening sejenak. Hanya ada suara kereta dan hujan. Niskala merasa kata-kata Abii seperti pelukan hangat yang tak terlihat.

“Terima kasih, Bii,” ucap Niskala lirih. “Kadang aku butuh diingetin kalau aku gak harus selalu kuat sendirian.”

Baca Juga: Pertamina-Pindad luncurkan ILI UT, teknologi ultrasonik inspeksi pipa migas tanpa henti

Abii menoleh ke jendela, menatap hujan yang semakin deras. Senyum kecil terbit di bibirnya. “Kal, kamu gak sendirian. Bahkan di tengah komentar dunia yang riuh, selalu ada satu-dua suara yang ingin kamu dengar. Cari itu, simpan itu. Jangan biarin suara lain membungkamnya.”

Kereta terus melaju. Dan di dalam gerbong yang penuh sesak, Abii dan Niskala merasa mereka sedang berada di ruang paling lapang, ruang percakapan yang membuat jiwa mereka bernapas lebih lega.

Arie Pradipta Sastra, Writerpreneur di Kota Depok

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X