CERPEN: Takbir Padang Karbala

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 9 Juli 2025 | 04:17 WIB
Ilustrasi - Takbir Padang Karbala
Ilustrasi - Takbir Padang Karbala

"Lihat!" serunya. "Ada pelangi yang terbuat dari air mata!"

Baca Juga: Dulu diantar jualan es, kini tembus ITB: Rumah anak penjual es di Ponorogo penuh trofi prestasi

Memang benar. Di atas sana, sebuah pelangi terbentang, warnanya bukan merah-jingga-kuning, melainkan spektrum dari biru duka hingga putih pengampunan.

Setiap tetes air mata yang jatuh di Karbala, dari Sayyidina Husain hingga bayi Ali Asghar, seolah menguap menjadi warna-warni pelangi yang memudar dan muncul kembali.

Seorang syuhada berjanggut putih, dengan senyum ramah dan luka panah yang bersinar di dadanya, menghampiriku.

"Nak," katanya, suaranya seperti bisikan daun kering di musim gugur, "Jangan terpaku pada duka. Kami di sini untuk mengingatkan, bukan untuk menenggelamkanmu dalam kesedihan. Setiap tetes darah kami adalah tinta untuk menulis babak baru kebenaran."

Baca Juga: DPRD Subang soroti komitmen transparansi Pemda dalam Rapat KUA-PPAS Perubahan 2025

Para anak yatim mulai berlarian di antara para syuhada, tawa mereka yang murni memecah keheningan Karbala.

Mereka bermain petak umpet di antara reruntuhan tenda yang terbuat dari bayangan, dan melompat-lompat di atas kolam-kolam air mata yang mengkristal menjadi permata.

Salah satu anak yatim, seorang gadis kecil dari Suriah dengan boneka usang di pelukannya, menghampiri syuhada berjanggut putih itu. "Paman," tanyanya, "Apakah paman punya permen?"

Syuhada itu tersenyum. Dari saku jubahnya yang lusuh, ia mengeluarkan segenggam bunga melati kering.

Baca Juga: Diserbu pembeli sejak hari pertama, Almaz Fried Chicken hadir di jantung Kota Subang

"Ini bukan permen, Nak," katanya, "tapi ini adalah keharuman surga. Setiap kali kau menciumnya, ingatlah bahwa kebenaran itu indah, walau terkadang pahit di awalnya."

Tiba-tiba, dari tengah padang, sebuah panggung muncul. Terbuat dari tulang-tulang yang bersinar dan dihiasi kain-kain compang-camping yang berkibar seperti bendera kemenangan.

Di panggung itu, sesosok bayangan agung berdiri tegak. Aku tahu itu adalah Sayyidina Husain, meski wajahnya tak terlihat jelas, hanya auranya yang memancar.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

CERPEN: Kaca pecah di Negev

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X