Di sinilah, di antara kaktus-kaktus yang kini meneteskan embun duka, aku berdiri bersama para syuhada dan jutaan anak yatim sedunia. Namun, gambaran mereka tak lagi hanya siluet.
Wajah-wajah mereka kini memancarkan cahaya yang lebih terang, air mata mereka jatuh seperti kristal-kristal bening, namun di balik setiap tetesnya, ada kilatan tekad yang membara.
Baca Juga: Kemenhub: KMP Tunu Pratama Jaya alami distress sebelum tenggelam di Selat Bali
Seorang syuhada, dengan sorban yang sedikit miring dan janggut yang basah oleh air mata, mengulurkan tangannya kepadaku.
"Lihatlah, Nak," suaranya parau namun penuh kekuatan, "ini adalah air mata yang menyirami akar kebenaran. Setiap rintik bukan hanya kesedihan, tapi juga pupuk bagi keberanian yang tak tergoyahkan."
Di kejauhan, Anak-anak yatim tidak lagi sekadar berlarian. Mereka kini membentuk barisan rapi, lentera-lentera air mata mereka berkobar lebih terang.
Dari bibir mungil mereka, bukan hanya doa, melainkan takbir-takbir perlawanan mulai menggema.
Baca Juga: Bukan Mulan Jameela, Tata Janeeta bagikan momen gemas soal persahabatannya dengan Maia Estianty
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Suara-suara polos itu, yang seharusnya hanya mengucapkan irama permainan, kini menggetarkan padang Karbala, menembus cakrawala yang kelabu.
Seorang gadis kecil dari Palestina, dengan tatapan mata yang dalam, menunjuk ke arah gundukan tanah yang berlumuran cahaya.
"Di sanalah," bisiknya, "kakekku bilang, darah Sayyidina Husain menjadi sungai yang tak terlihat, mengalirkan keberanian ke setiap jiwa yang tertindas."
Aku melihat ke arah gundukan itu. Bukan hanya tanah, melainkan seolah ada denyutan kehidupan di sana.
Dari sana, gelombang energi memancar, menyentuh setiap syuhada dan setiap anak yatim. Setiap kali gelombang itu melintas, takbir yang mereka lantunkan semakin keras, semakin membakar.
Itu adalah gelora perlawanan yang lahir dari kesyahidan, bukan untuk balas dendam, melainkan untuk keadilan.
Artikel Terkait
CERPEN: Kaca pecah di Negev
Perang Israel-Iran, DPR imbau WNI di wilayah konflik tetap tenang, evakuasi dilakukan bertahap
Iran bantah rencana negosiasi nuklir dengan AS, Menlu Araghchi sebut Washington penuh kontradiksi
WNI ceritakan momen mencekam saat perang Iran-Israel: Setiap malam ada serangan
Setelah Iran-Israel, Trump incar Afrika: Klaim tengah damai Kongo-Rwanda lewat mediasi AS
AS surati Dewan Keamanan PBB: Serangan ke fasilitas nuklir Iran disebut upaya cegah kepemilikan senjata nuklir
CERPEN: Perang 12 hari