Dalam tradisi kekuasaan materialistis kuno, feodalisme terlihat dalam cara orang menghadap raja atau kaisar. Ada protokol khusus yang harus ditempuh sebelum seseorang dapat bertemu dengan Raja Agung atau Kaisar.
Ada aturan tentang siapa yang boleh mendekat, bagaimana cara berdiri, dan bagaimana seseorang harus menempatkan dirinya di hadapan penguasa.
Namun tidak demikian dengan Rasulullah SAW. Siapa pun dapat bertemu Rasulullah, kecuali pada waktu-waktu privasi beliau.
Bahkan saking egaliternya, seorang pemimpin besar bernama Muhammad memanggil para pengikutnya dengan sebutan 'sahabat.'
Salah satu agenda besar yang dibawa Rasulullah SAW adalah fakku raqabah, membebaskan manusia dari belenggu perbudakan.
Spirit pembebasan ini juga dapat dibaca sebagai pembebasan manusia dari berbagai bentuk feodalisme dalam hubungan sosial, antara tokoh dan rakyat biasa, antara si pintar dan si bodoh, antara si miskin dan si kaya.
Sikap feodalistis bukanlah karakter asli manusia. Manusia secara fitrah saling membutuhkan, saling mengayomi, dan saling memuliakan.
Sikap feodalistis lahir dari sistem kekuasaan materialistis, ketika aturan dan ukuran kehidupan ditentukan oleh hawa nafsu dan kebodohan penguasa.
Baca Juga: Makam Sutrimo karumga Febrie Adriansyah mulai dibongkar, ekshumasi jenazah libatkan ahli forensik
Shalat dan zakat adalah dua konsep yang tidak pernah terpisah dalam membangun tata kehidupan manusia. Shalat merupakan konsep tata kelola sosial, sementara zakat merupakan konsep tata kelola ekonomi.
Shalat membangun keteraturan, kedisiplinan, kebersamaan, dan kesetaraan manusia dalam satu barisan. Tidak ada saf khusus bagi orang kaya, pejabat, bangsawan, atau orang yang memiliki pengaruh.
Sedangkan zakat mengatur distribusi kekayaan agar ekonomi tidak hanya berputar di kalangan mereka yang memiliki modal.