Dapur Nusantara bukan sekadar tempat memasak. Ia adalah pusat pemberdayaan ekonomi lokal. Ia adalah pasar bagi petani dan nelayan. Ia adalah sumber pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Ia adalah simpul ekonomi yang menghubungkan negara dengan rakyat. Dan pada saat yang sama, ia tetap menjalankan misi utamanya, menyediakan makanan bergizi bagi siswa yang membutuhkan.
Mengubah cara pandang publik
Indonesia sering kali gagal melihat potensi besar sebuah program karena terlalu fokus pada aspek teknis yang tampak di permukaan. Hal yang sama terjadi pada MBG.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa banyak program besar dunia berhasil bukan hanya karena desain kebijakannya, tetapi karena narasi yang mampu menjelaskan tujuan besarnya kepada masyarakat.
Baca Juga: Pertemuan Menkeu dan Gubernur BI di DPR, pemerintah pastikan tak ada pergantian jabatan
Sudah saatnya publik melihat BGN dan SPPG secara lebih utuh. Ini bukan sekadar program makan bergizi. Ini bukan sekadar soal lauk dan menu harian.
Ini adalah instrumen pembangunan ekonomi berbasis komunitas yang bekerja setiap hari di tengah masyarakat.
Jika dikelola dengan baik, transparan, dan tepat sasaran, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh siswa penerima makanan, tetapi juga oleh jutaan petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, dan tenaga kerja yang menjadi bagian dari rantai pasoknya.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari berapa juta porsi makanan yang dibagikan setiap hari.
Baca Juga: Tangis haru player escort di GBK, perjuangan bocah asal Manado jadi sorotan
Keberhasilannya juga harus diukur dari berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, berapa besar ekonomi daerah bergerak, berapa kuat sektor riil tumbuh, dan seberapa besar kontribusinya terhadap cita-cita Indonesia menjadi negara maju.
Karena itu, sudah saatnya kita menggeser cara pandang. Dari program gizi menjadi mesin ekonomi rakyat. Dari SPPG menjadi Dapur Nusantara. Dari sekadar memberi makan, menjadi menggerakkan kehidupan.
Agus Sulistriyono, CEO Promedia Group