esai

ESAI: Bahasa dan sastra, jalan sunyi menuju kebangkitan kemanusiaan

Senin, 27 Oktober 2025 | 05:12 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

 

Ada pertemuan yang tak sekadar bertukar kata, melainkan mempertemukan kesadaran.

Demikianlah yang saya rasakan pagi ini di ruang webinar HIMADIKSATRASIA IKIP Siliwangi, dalam tema yang sesungguhnya bukan hanya seremonial, tetapi refleksi eksistensial, saya sebagai pemateri webinar nasional yang bertajuk 'Menumbuhkan Kecintaan Bahasa, Membangun Generasi Kreatif melalui Bahasa dan Sastra,'

Dalam era di mana manusia lebih sering berbicara kepada layar daripada kepada sesamanya, bahasa dan sastra muncul sebagai oase, sebuah jalan sunyi yang mengembalikan manusia kepada hakikat dirinya, makhluk yang berpikir, merasa, dan bermakna.

Baca Juga: Perang dagang AS-China mulai mencair: Negosiasi di Kuala Lumpur isyaratkan babak baru hubungan ekonomi global

Bahasa, kata Ludwig Wittgenstein, adalah batas dunia kita. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi ruang dimana realitas diciptakan.

Apa yang tak bisa kita ucapkan, sering kali tak bisa pula kita pahami. Maka, hilangnya kepekaan terhadap bahasa bukan hanya kemunduran estetika, melainkan kemerosotan kesadaran.

Di sinilah saya melihat bahwa kecintaan terhadap bahasa Indonesia bukan sekadar patriotisme linguistik, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap kekosongan makna yang kini membayang dalam budaya digital.

Kita hidup di zaman ketika kata-kata kehilangan bobotnya. 'Teman' bisa berarti siapa saja di media sosial; 'like' menggantikan 'terima kasih' dan 'story' menjadi ruang pengakuan yang dangkal.

Baca Juga: Tapak Suci Subang gelar TOT, siapkan 85 kader pelatih untuk jawab kekurangan tenaga instruktur di sekolah

Namun sastra, dengan kesunyian dan kedalaman yang dimilikinya, menolak reduksi semacam itu. Ia mengembalikan makna kepada kata, dan jiwa kepada kalimat.

Dalam membaca puisi Chairil Anwar, kita tidak hanya menemui perlawanan, tapi juga perenungan. Dalam Pramoedya Ananta Toer, kita tak hanya belajar sejarah, tapi juga memahami bahwa menulis adalah bentuk melawan lupa.

Sastra membuat kita bertemu kembali dengan hakikat manusia yang kerap terhapus dalam statistik, algoritma, dan ambisi.

Kreativitas sejati, dalam pandangan saya, selalu lahir dari perjumpaan antara bahasa dan kesadaran.

Halaman:

Tags

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB