Ada pertemuan yang tak sekadar bertukar kata, melainkan mempertemukan kesadaran.
Demikianlah yang saya rasakan pagi ini di ruang webinar HIMADIKSATRASIA IKIP Siliwangi, dalam tema yang sesungguhnya bukan hanya seremonial, tetapi refleksi eksistensial, saya sebagai pemateri webinar nasional yang bertajuk 'Menumbuhkan Kecintaan Bahasa, Membangun Generasi Kreatif melalui Bahasa dan Sastra,'
Dalam era di mana manusia lebih sering berbicara kepada layar daripada kepada sesamanya, bahasa dan sastra muncul sebagai oase, sebuah jalan sunyi yang mengembalikan manusia kepada hakikat dirinya, makhluk yang berpikir, merasa, dan bermakna.
Bahasa, kata Ludwig Wittgenstein, adalah batas dunia kita. Ia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi ruang dimana realitas diciptakan.
Apa yang tak bisa kita ucapkan, sering kali tak bisa pula kita pahami. Maka, hilangnya kepekaan terhadap bahasa bukan hanya kemunduran estetika, melainkan kemerosotan kesadaran.
Di sinilah saya melihat bahwa kecintaan terhadap bahasa Indonesia bukan sekadar patriotisme linguistik, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap kekosongan makna yang kini membayang dalam budaya digital.
Kita hidup di zaman ketika kata-kata kehilangan bobotnya. 'Teman' bisa berarti siapa saja di media sosial; 'like' menggantikan 'terima kasih' dan 'story' menjadi ruang pengakuan yang dangkal.
Namun sastra, dengan kesunyian dan kedalaman yang dimilikinya, menolak reduksi semacam itu. Ia mengembalikan makna kepada kata, dan jiwa kepada kalimat.
Dalam membaca puisi Chairil Anwar, kita tidak hanya menemui perlawanan, tapi juga perenungan. Dalam Pramoedya Ananta Toer, kita tak hanya belajar sejarah, tapi juga memahami bahwa menulis adalah bentuk melawan lupa.
Sastra membuat kita bertemu kembali dengan hakikat manusia yang kerap terhapus dalam statistik, algoritma, dan ambisi.
Kreativitas sejati, dalam pandangan saya, selalu lahir dari perjumpaan antara bahasa dan kesadaran.