Dalam dunia sinema, ada film yang mengajak kita berpikir, ada yang membuat kita merasa, dan ada pula yang diam-diam menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan kita.
Film Sore 'Istri dari Masa Depan' termasuk dalam kategori ketiga, film yang bukan hanya diproyeksikan di layar, tetapi juga di hati, pikiran, bahkan dalam perenungan tentang waktu dan kehidupan itu sendiri.
Film ini tidak hanya menawarkan hiburan semata, melainkan ruang kontemplasi antara sains dan seni, antara logika dan rasa, antara fakta dan takdir.
Baca Juga: Langkah politik berani: Prabowo ampuni Tom Lembong dan Hasto demi soliditas nasional
Waktu sebagai sains yang dirasakan
Dari kacamata sains, film Sore mengusung tema yang sudah lama menjadi bahan diskusi para fisikawan dan penulis fiksi ilmiah, perjalanan waktu atau time traveler.
Namun, yang membuat Sore terasa berbeda adalah cara ia memanusiakan sains tersebut.
Alih-alih fokus pada konsep-konsep fisika teoritis seperti teori relativitas, fisika kuantum, entropi, dan termodinamika yang memang terdapat dalam praktik film ini jika dianalisis dalam sudut pandang ilmu Fisika.
Film ini menghadirkan waktu sebagai entitas yang personal dan mendalam. Waktu tidak hadir sebagai alat, tetapi sebagai medium emosional, bahkan spiritual.
Baca Juga: Desak Israel hentikan kekerasan, Kanada siap akui negara Palestina di PBB
Dalam Sore, penonton tidak diajak untuk memahami bagaimana mekanisme perjalanan waktu bekerja. Sebaliknya, kita justru diajak untuk merasakan mengapa waktu itu penting?
Tokoh Jonathan, yang dihampiri oleh perempuan dari masa depan bernama Sore dikali pertamanya, tidak langsung memikirkan logika dari kehadiran Sore.
Ia justru lebih fokus pada pesan yang dibawa dan makna kehadiran Sore dalam hidupnya. Di titik inilah seni berbicara, film Sore mengajak kita melihat waktu bukan sekadar angka atau sistem, melainkan sebagai sesuatu yang hidup.
Harmoni antara sains dan seni