Waktu sebagai guru kehidupan
Di sinilah seni berbicara setara dengan sains. Sains menjelaskan bahwa waktu itu linier, tetapi seni memperlihatkan bahwa waktu bisa melingkar, bisa menyembuhkan, bahkan bisa mempertemukan hal-hal yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Sang sutradara, Yandy Laurens, dari balik layar menyampaikan kalimat yang menyentuh dan terasa sangat jujur.
"Nanti kalo kita umur 70an, yang kita ingat tuh bukan filmnya, tapi pertumbuhan dari relasi yang terjadi waktu kita ngerjainnya."
Baca Juga: Ria Ricis ungkap alasan gelar ultah Moana senilai Rp1 miliar: Bukan sekadar pesta, tapi silaturahmi
Kalimat ini sederhana, tapi kaya makna. Ia mencerminkan falsafah waktu sebagai guru terbaik.
Waktu bukan sekadar benda yang berjalan, melainkan ruang pembelajaran. Kutipan ini memperkuat semangat film Sore sebagai ruang pertumbuhan, bukan sekadar karya.
Bagi para pelaku film, waktu yang mereka habiskan bersama dalam proses kreatif justru lebih bermakna dibanding produk akhirnya.
Bagi penonton pun begitu, film ini mungkin akan terlupa sebagai cerita, tapi ia akan dikenang sebagai rasa.
Baca Juga: Denny Sumargo bantah bela Erika Carlina dalam podcast klarifikasi DJ Panda: Itu masalah perspektif
Sebuah perasaan bahwa kita pernah diyakinkan, bahwa cinta bisa datang dari masa depan, dan waktu bukan musuh, tetapi guru.
Akhirnya, Sore adalah tentang bagaimana kita memandang waktu, bukan sebagai kronologi, tetapi sebagai narasi spiritual. Waktu tidak hanya mengatur, ia juga menyembuhkan.
Tidak semua orang akan mendapat kesempatan kedua, tapi setiap orang bisa belajar untuk tidak menyia-nyiakan yang pertama.
Salah satu benang merah terkuat dari film ini adalah pelajaran bahwa waktu adalah guru paling sabar. Ia tidak buru-buru memberi jawaban, tapi menunggu sampai kita siap memahami.
Artikel Terkait
Sinopsis film ‘28 Years Later’, perjalanan Cillian Murphy di sebuah kota kecil dengan nuansa soundtrack yang mengerikan!
Tidak mengalami gangguan mistis, Erika Carlina justru kelelahan mental selama syuting film Pengantin Setan
Sudah ditonton 5 juta moviegoers, Gibran sebut film Jumbo sebagai era baru industri animasi Indonesia
Animator film ‘Jumbo’ Ryan Adriandhy ceritakan fakta menarik di balik soundtrack 'Selalu Ada di Nadimu’
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
Komentar Ernest Prakasa usai film 'Agak Laen' disalip JUMBO: Kekalahan paling membanggakan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern