ESAI: Sains dan seni dalam film Sore 'Istri dari Masa Depan'

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 18:31 WIB
M. Dodi Rusli, Mahasiswa Pascasarjana MMPD Universitas Winaya Mukti
M. Dodi Rusli, Mahasiswa Pascasarjana MMPD Universitas Winaya Mukti

Waktu sebagai guru kehidupan

Di sinilah seni berbicara setara dengan sains. Sains menjelaskan bahwa waktu itu linier, tetapi seni memperlihatkan bahwa waktu bisa melingkar, bisa menyembuhkan, bahkan bisa mempertemukan hal-hal yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.

Sang sutradara, Yandy Laurens, dari balik layar menyampaikan kalimat yang menyentuh dan terasa sangat jujur.

"Nanti kalo kita umur 70an, yang kita ingat tuh bukan filmnya, tapi pertumbuhan dari relasi yang terjadi waktu kita ngerjainnya."

Baca Juga: Ria Ricis ungkap alasan gelar ultah Moana senilai Rp1 miliar: Bukan sekadar pesta, tapi silaturahmi

Kalimat ini sederhana, tapi kaya makna. Ia mencerminkan falsafah waktu sebagai guru terbaik.

Waktu bukan sekadar benda yang berjalan, melainkan ruang pembelajaran. Kutipan ini memperkuat semangat film Sore sebagai ruang pertumbuhan, bukan sekadar karya.

Bagi para pelaku film, waktu yang mereka habiskan bersama dalam proses kreatif justru lebih bermakna dibanding produk akhirnya.

Bagi penonton pun begitu, film ini mungkin akan terlupa sebagai cerita, tapi ia akan dikenang sebagai rasa.

Baca Juga: Denny Sumargo bantah bela Erika Carlina dalam podcast klarifikasi DJ Panda: Itu masalah perspektif

Sebuah perasaan bahwa kita pernah diyakinkan, bahwa cinta bisa datang dari masa depan, dan waktu bukan musuh, tetapi guru.

Akhirnya, Sore adalah tentang bagaimana kita memandang waktu, bukan sebagai kronologi, tetapi sebagai narasi spiritual. Waktu tidak hanya mengatur, ia juga menyembuhkan.

Tidak semua orang akan mendapat kesempatan kedua, tapi setiap orang bisa belajar untuk tidak menyia-nyiakan yang pertama.

Salah satu benang merah terkuat dari film ini adalah pelajaran bahwa waktu adalah guru paling sabar. Ia tidak buru-buru memberi jawaban, tapi menunggu sampai kita siap memahami.

Baca Juga: Denny Sumargo bongkar konten klarifikasi DJ Panda hasil syuting ulang: Awalnya bohong dan terlihat pengecut

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X