ESAI: Sains dan seni dalam film Sore 'Istri dari Masa Depan'

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 18:31 WIB
M. Dodi Rusli, Mahasiswa Pascasarjana MMPD Universitas Winaya Mukti
M. Dodi Rusli, Mahasiswa Pascasarjana MMPD Universitas Winaya Mukti

Film ini dengan cerdas menyentuh dua kutub pemikiran manusia, sains dan seni.

Baca Juga: PPATK tegaskan pemblokiran rekening dormant untuk lindungi hak nasabah

Dari sisi sinematografi, pilihan warna-warna natural seperti biru dingin, hijau daun, dan coklat tanah menghadirkan rasa tenang yang sekaligus hampa.

Lanskap Kroasia yang tenang, aurora yang melayang lembut, dan es yang retak perlahan, semuanya visualisasi dari waktu yang membeku, kemudian mencair, dan akhirnya mengalir.

Setiap frame terasa seperti lukisan yang merefleksikan ruang batin tokoh utamanya.

Sementara dari sisi penceritaan, penggunaan alur waktu berulang tidak ditampilkan sebagai kejadian aneh, tetapi sebagai ruang pembelajaran emosional.

Baca Juga: Bukan Evan DC, ini sosok tamu spesial versi Ria Ricis di ultah mewah Moana

Pengulangan yang dialami oleh tokoh utama bukan sekadar peristiwa yang berulang, melainkan kesempatan untuk berubah.

Dan di sinilah, ketika ruang waktu dijadikan ruang batin, kita mulai bertanya, sejauh mana manusia bisa mengubah hidupnya? Apakah segalanya sudah ditentukan? Ataukah masih ada ruang untuk merubah?

Dimensi filosofis waktu

Jika ditarik lebih jauh, gagasan waktu dalam film ini bersinggungan erat dengan konsep nasib dan takdir.

Dalam pemahaman religiusitas, takdir adalah ketentuan mutlak dari Sang Pencipta, sesuatu yang sudah digariskan dalam Lauhul Mahfudz, kitab takdir yang telah mencatat segala peristiwa, bahkan sebelum ia terjadi.

Baca Juga: Aisar Khaled beri kalung emas dan boneka untuk Moana, sampaikan pesan menyentuh di ultah Ria Ricis

Namun, berbeda dengan takdir, nasib adalah ruang interaktif yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ia bisa berubah dan bisa diperjuangkan, tergantung pada upaya dalam mengusahakannya.

Nasib adalah lembaran yang masih bisa ditulis ulang, dengan tinta berupa ikhtiar, doa, dan waktu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X