Film ini dengan cerdas menyentuh dua kutub pemikiran manusia, sains dan seni.
Baca Juga: PPATK tegaskan pemblokiran rekening dormant untuk lindungi hak nasabah
Dari sisi sinematografi, pilihan warna-warna natural seperti biru dingin, hijau daun, dan coklat tanah menghadirkan rasa tenang yang sekaligus hampa.
Lanskap Kroasia yang tenang, aurora yang melayang lembut, dan es yang retak perlahan, semuanya visualisasi dari waktu yang membeku, kemudian mencair, dan akhirnya mengalir.
Setiap frame terasa seperti lukisan yang merefleksikan ruang batin tokoh utamanya.
Sementara dari sisi penceritaan, penggunaan alur waktu berulang tidak ditampilkan sebagai kejadian aneh, tetapi sebagai ruang pembelajaran emosional.
Baca Juga: Bukan Evan DC, ini sosok tamu spesial versi Ria Ricis di ultah mewah Moana
Pengulangan yang dialami oleh tokoh utama bukan sekadar peristiwa yang berulang, melainkan kesempatan untuk berubah.
Dan di sinilah, ketika ruang waktu dijadikan ruang batin, kita mulai bertanya, sejauh mana manusia bisa mengubah hidupnya? Apakah segalanya sudah ditentukan? Ataukah masih ada ruang untuk merubah?
Dimensi filosofis waktu
Jika ditarik lebih jauh, gagasan waktu dalam film ini bersinggungan erat dengan konsep nasib dan takdir.
Dalam pemahaman religiusitas, takdir adalah ketentuan mutlak dari Sang Pencipta, sesuatu yang sudah digariskan dalam Lauhul Mahfudz, kitab takdir yang telah mencatat segala peristiwa, bahkan sebelum ia terjadi.
Baca Juga: Aisar Khaled beri kalung emas dan boneka untuk Moana, sampaikan pesan menyentuh di ultah Ria Ricis
Namun, berbeda dengan takdir, nasib adalah ruang interaktif yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ia bisa berubah dan bisa diperjuangkan, tergantung pada upaya dalam mengusahakannya.
Nasib adalah lembaran yang masih bisa ditulis ulang, dengan tinta berupa ikhtiar, doa, dan waktu.
Artikel Terkait
Sinopsis film ‘28 Years Later’, perjalanan Cillian Murphy di sebuah kota kecil dengan nuansa soundtrack yang mengerikan!
Tidak mengalami gangguan mistis, Erika Carlina justru kelelahan mental selama syuting film Pengantin Setan
Sudah ditonton 5 juta moviegoers, Gibran sebut film Jumbo sebagai era baru industri animasi Indonesia
Animator film ‘Jumbo’ Ryan Adriandhy ceritakan fakta menarik di balik soundtrack 'Selalu Ada di Nadimu’
Mengenal Tetralogi Pulau Buru: Warisan sastra yang membongkar sejarah dan kemanusiaan
Komentar Ernest Prakasa usai film 'Agak Laen' disalip JUMBO: Kekalahan paling membanggakan
Sastra Persia: Jejak spiritual dan budaya dari peradaban kuno hingga sufi modern