ESAI: Sains dan seni dalam film Sore 'Istri dari Masa Depan'

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 18:31 WIB
M. Dodi Rusli, Mahasiswa Pascasarjana MMPD Universitas Winaya Mukti
M. Dodi Rusli, Mahasiswa Pascasarjana MMPD Universitas Winaya Mukti

Film Sore bergerak dalam celah halus antara dua kutub itu. Jonathan mungkin tak bisa menghindari akhir kisahnya, tetapi cara dia sampai ke titik itu melalui perubahan sikap, perenungan, dan rasa bersalah, menunjukkan bahwa nasib bukanlah garis mati.

Ini mengajarkan kita bahwa walau takdir telah ditetapkan, Sang Maha Kuasa memberikan kesempatan untuk meraih nasib yang terbaik dari beberapa kemungkinan yang tersedia.

Baca Juga: Viral! halaman rumah warga pasuruan diduga dijadikan parkir liar penonton sound horeg

Di titik ini, waktu dalam film tidak hadir sebagai mesin, tetapi sebagai makhluk spiritual yang membawa pelajaran dan peluang perubahan.

Pertemuan takdir artistik: Lagu dan film yang dipersatukan waktu

Kekuatan narasi ini justru semakin menyatu ketika kita mendengar salah satu komentar dari audiens di sebuah video klip kanal youtube grup musik Barasuara yang juga akhirnya dipilih menjadi soundtrack film ini.

“Gue baru kepikiran kalau ada lagu yang emang ditakdirkan untuk sebuah film.”

Ketika membaca komentar ini, saya merasa bahwa kalimat itu bernada refleksi, ia membawa kita pada satu momen magis, bahwa kadang, dua hal yang diciptakan secara terpisah, dalam ruang dan waktu yang berbeda, akhirnya dipertemukan karena keselarasan takdir artistik.

Baca Juga: Santer dikabarkan dekat dengan Ria Ricis, Evan DC hadiri ultah Moana

Lagu 'Terbuang Dalam Waktu' dari Barasuara bukanlah lagu yang dipesan untuk film ini. Ia lahir dalam semesta musiknya sendiri, tidak mengenal Jonathan, tidak mengenal Sore. Tapi waktu mempertemukan mereka.

Produser dan Sutradara melihat lagu ini bukan hanya cocok, tetapi seakan memang ditakdirkan untuk masuk dalam penciptaan suasana ruh filmnya.

Dalam keindahan artistik seperti ini, takdir tidak hadir sebagai sesuatu yang kaku, tetapi justru sebagai harmoni yang tak terencana namun terasa benar.

Lagu itu menyatu dengan gambar, bukan sebagai ilustrasi, tetapi sebagai perasaan itu sendiri.

Baca Juga: Makna spesial di balik tema ultah Moana dan Ria Ricis yang habiskan Rp1 miliar

Kita tidak lagi mendengar musik, kita merasakan luka, jeda, dan harapan yang digambarkan lagu itu, seolah waktu memang sedang mengajarkan sesuatu melalui harmoni yang tidak disengaja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X