Pada jalur ini ditandai dengan nilai prestasi raport atau sertifikat prestasi dalam mengikuti kejuaraan.
Siswa dari setiap jalur memiliki karakternya masing-masing, sehingga berkumpul dalam satu sekolah dan dapat mempengaruhi keragaman siswa di sekolah tersebut, yang pada gilirannya memengaruhi upaya pembentukan karakter.
Kompleksitas heterogenitas yang muncul merupakan tantangan yang tidak sederhana.
Baca Juga: 6 Calon Dubes RI jalani uji kelayakan di DPR, ada adik Luhut hingga eks Menko Jokowi
Terlebih untuk siswa usia menuju remaja cenderung mengalami masa haus informasi sekaligus masa ambivalensi, yakni kondisi di mana seseorang dalam keinginan antara bergaul atau menyendiri.
Penerimaan siswa baru merupakan elemen krusial dalam manajemen peserta didik. Tanpa adanya siswa yang diterima, maka secara otomatis tidak ada aktivitas yang perlu diorganisir di lingkungan sekolah.
Siswa baru dalam proses ini, kita ketahui adalah siswa yang akan mengalami peralihan, dari siswa Sekolah Dasar (SD) kepada Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Adapun peralihan tersebut adalah peralihan lingkungan, baik lingkungan tempat, teman dalam bergaul maupun sistem sekolah.
Baca Juga: ESAI: Mantra, dialektika diksi dan kekacauan kata pada fosil-fosil puisi
Dengan peralihan ini, siswa memerlukan adaftasi yang akan menguras emosi, psikologis maupun pola kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun dari setiap siswa.
Dari kondisi tersebut, maka manajemen pelaksanaan Pendidikan di setiap sekolah, harus tertata dan terlaksana dengan baik, terlebih untuk menerapkan berbagai program Pendidikan.
Untuk mempermudah adaftasi dan menunjang pembentukan karakter murid baru saat ini ada program MPLS ramah.
MPLS ramah dirancang dengan prinsip memuliakan hak anak, menjunjung nilai-nilai karakter, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menggembirakan.
Baca Juga: Dapat sertifikat kembali, Nirina Zubir masih dibayangi banding kasus mafia tanah mantan ART
Selain itu pula ada pula: