Mereka percaya bahwa pengetahuan dibentuk melalui interaksi sosial dan pengalaman, bukan dipaksakan dari luar.
Anak belajar dengan cara aktif, membangun makna sendiri, dan didorong untuk bereksplorasi.
Sementara itu, Jurgen Habermas melalui teori emansipatoris-nya menyatakan bahwa pendidikan harus mampu membuka ruang kesadaran kritis, memungkinkan peserta didik menyadari struktur ketidakadilan dan mendorong perubahan sosial secara rasional.
Pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi jalan menuju pembebasan sosial.
Di era digital seperti sekarang, pendidikan yang membebaskan juga berarti membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, serta memahami keberagaman perspektif.
Kita tidak bisa terus memaksakan satu kebenaran tunggal di tengah dunia yang semakin plural dan dinamis.
Maka, Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi panggilan untuk kembali ke akar: pendidikan sebagai ruang pembebasan, bukan penindasan.
Di sekolah, di rumah, dan di masyarakat, kita harus hadir bukan sebagai penguasa pengetahuan, tetapi sebagai fasilitator pertumbuhan manusia.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI (UNINDRA) Jakarta