Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini merayakan Hari Pendidikan Nasional. Sebuah momen reflektif, bukan hanya seremonial.
Di tengah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, kita mesti bertanya ulang: apakah sistem pendidikan hari ini telah benar-benar membebaskan, atau justru masih menyisakan bentuk-bentuk penindasan yang halus?
Pendidikan semestinya menjadi jalan kemerdekaan manusia, bukan alat kekuasaan untuk menundukkan.
Gagasan ini telah ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, yang memandang pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.
Baca Juga: ESAI: Hari pendidikan dan kesadaran kasta: Mencari letak jati diri
Ia menekankan prinsip tut wuri handayani, bahwa pendidik tidak memaksa, melainkan membimbing dari belakang, memberi dorongan agar peserta didik tumbuh dalam kodrat dan kebebasannya sendiri.
Gagasan itu senada dengan pemikiran Paulo Freire, tokoh pedagogi kritis dari Brasil. Freire menolak pendidikan gaya 'deposito' yang memperlakukan murid seperti celengan kosong.
Ia mengajukan model pendidikan dialogis, di mana peserta didik diajak berpikir kritis tentang kenyataan hidupnya.
Dalam Pedagogy of the Oppressed, ia menulis bahwa pendidikan sejati adalah pembebasan dari ketertindasan struktural dan kultural.
Baca Juga: Viral kocak warga Bogor minta Damkar tiup lilin bareng, gegara diputusin pacar saat ulang tahun
Sayangnya, wajah pendidikan kita hari ini belum sepenuhnya mencerminkan cita-cita itu.
Di ruang-ruang kelas, masih banyak anak yang sekadar disuruh menyalin, menghafal, dan patuh.
Di balik tembok sekolah, ada tekanan nilai, ranking, dan ujian yang justru menyesakkan. Bahkan di luar sekolah, sistem ekonomi membuat pendidikan mahal dan diskriminatif.
Pendidikan yang membebaskan mestinya melibatkan ruang dialog antara guru dan murid, seperti yang digagas oleh Lev Vygotsky dan Jean Piaget.