Keberadaan buzzer dan influencer dalam ranah informasi publik dapat berdampak besar pada persepsi masyarakat.
Dalam teori agenda setting, media berperan menentukan isu yang dianggap penting oleh publik.
Jika peran ini diambil alih oleh buzzer atau influencer, masyarakat bisa saja mendapatkan informasi yang bias dan tidak berimbang.
Selain itu, dalam teori propaganda, buzzer sering digunakan untuk menggiring opini sesuai dengan kepentingan tertentu.
Hal ini berbahaya jika informasi yang disebarkan tidak akurat atau dimanipulasi untuk kepentingan politik atau bisnis.
Meskipun buzzer dan influencer memiliki peran dalam penyebaran informasi, mereka bukan bagian dari pers.
Pers memiliki tanggung jawab moral dan etik untuk menyampaikan berita yang benar dan berimbang.
Sementara itu, buzzer dan influencer lebih berorientasi pada kepentingan subjektif, yang sering kali mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam mengonsumsi informasi dan memahami perbedaan antara pers yang sesungguhnya dan sekadar opini yang disebarkan oleh buzzer atau influencer.
Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta