Mungkin inilah yang disebut Slavoj Žižek sebagai fetishistic disavowal: 'I know very well what I am doing, but still, I am doing it.' Media sadar betul bahwa yang mereka tampilkan adalah sensasi murahan, tetapi tetap melakukannya karena tahu publik akan menontonnya.
Ini bukan sekadar soal etika pribadi, melainkan tentang struktur produksi media yang kian digerakkan oleh logika kapital, bukan nilai kebenaran.
Dan yang paling menyakitkan dari semua ini adalah ketika figur seperti guru—yang seharusnya menjadi simbol kebajikan dan pencerahan—dijadikan komoditas tontonan.
Dalam khazanah Jawa, guru adalah digugu lan ditiru; sosok yang dipercaya dan diteladani. Namun kini, sang guru tak lagi diteladani karena keilmuannya, melainkan karena keberaniannya menanggalkan batas-batas etika. Sebuah paradoks yang getir.
Adalah tugas kita untuk kembali mengangkat etika sebagai fondasi narasi media. Bukan dengan moralitas yang hipokrit, tetapi dengan keberanian untuk menyatakan bahwa tidak semua hal layak diberi panggung.
Tidak semua popularitas patut dirayakan. Kita memerlukan media yang bukan hanya menyampaikan berita, tetapi menyaring nilai.
Sebagaimana yang pernah ditegaskan oleh Edward Said, media harus menjadi agent of resistance, bukan agen reproduksi nilai-nilai pasar yang dangkal.
Ketika seorang guru yang melakukan tindakan asusila dijadikan selebritas dadakan, kita tidak hanya sedang membicarakan satu individu. Kita sedang membicarakan arsitektur mental sebuah bangsa.
Kita sedang membicarakan generasi muda yang menyaksikan tayangan itu dan mulai berpikir bahwa aib bisa menjadi tangga menuju ketenaran.
Kita sedang membicarakan orang tua yang kelelahan membentengi anak-anak mereka dari paparan toksik media, hanya untuk menyaksikan stasiun televisi besar merobohkan tembok itu dalam satu malam.
Simone Weil pernah mengatakan, 'Imajinasi dan keinginan, bukan logika, adalah akar dari hampir semua tindakan manusia.' Dan sayangnya, media telah lama menyadari ini.
Namun, alih-alih menggunakan daya imajinatifnya untuk membentuk masyarakat yang bijak, media justru mengeksploitasi keinginan terendah manusia demi keuntungan sesaat.