Dalimunthe dkk (2019), kesejahteraan/kabagjaan siswa yang dimaksud ialah 'kondisi mental dan emosi yang relatif konsisten yang dicirikan oleh perasaan dan sikap positif, hubungan positif dengan orang lain di lingkungan sekolah, daya lenting, pengembangan potensi diri secara optimal, dan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengalaman belajar.'
Sikap positif yang didasarkan pada nilai-nilai pancasila yang berbasis pada keimanan, ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kebhinekaan global, gotong royong, berpikir kritis, kreatif dan mandiri.
Kabagjaan atau wellbeing sebagai capaian kurikulum merupakan capaian pembelajaran dalam kurikulum Masagi didasarkan pada siklus pembelajaran Panca Niti, Niti Surti (olah hati, rasa, peduli, empati dll.), Niti Harti (olah pikir, pemahaman), Niti Bukti (karya, raga) dan Niti Bakti (karsa), yang pada akhirnya dicapai Niti Sajati (jadi), harmoni atau utuh. (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2020).
Baca Juga: Drama kolosal dan kedatangan Habib Syech akan meriahkan rangkaian Hari Santri Nasional di Subang
Salah satu hal yang bisa menjadi indikator kesejahteraan/kabagjaan peserta didik (student wellbeing) di satuan pendidikan adalah tidak adanya kekerasan dan perundungan (bullying).
Setiap peserta didik dapat belajar dengan aman dan nyaman secara fisik dan psikis, tidak mengalami diskiriminasi, intimidasi, dan intoleransi.
Selain itu, satuan pendidikan tempat mereka belajar bisa menjadi lingkungan yang kondusif untuk menanamkan dan merawat nilai-nilai kebhinekaan.
Berdasarkan hal tersebut, kurikulum Jabar MASAGI harus benar-benar difungsikan dan dioperasionalkan dalam kurikulum di satuan pendidikan baik melalui pembiasaan, proses pembelajaran, maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Kurikulum MASAGI bukan berperan sebagai pelengkap kurikulum nasional, tetapi sebagai salah satu sumber untuk mengintegrasikan kurikulum berbasis kearifan lokal di provinsi Jawa Barat.
Peran guru sangat strategis dalam mengintegrasikan kurikulum Jabar MASAGI pada kurikulum satuan pendidikan. Komite sekolah dan orang tua pun perlu dilibatkan agar memiliki visi yang sama dalam upaya mendidik anak.
Menurut saya, implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) pun bisa dielaborasi dengan nilai-nilai yang tercantum pada nilai-nilai kurikulum Jabar MASAGI karena pada dasarnya, substansi keduanya adalah pendidikan karakter dan membangun kecakapan hidup (life skill).
Dengan demikian, Pancasila, nilai kearifan lokal, dan kurikulum Jabar MASAGI penting untuk jadi sumber nilai dan inspirasi yang ditanamkan kepada setiap peserta didik dan dielaborasikan melalui pembiasaan, proses pembelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler, serta Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Pencegahan dan penanganan kekerasan dalam satuan pendidikan bukan hanya dilakukan melalui pendekatan struktural dan pendekatan regulasi yang terkesan birokratis, tetapi juga melalui pendekatan psikologis, sosiologis, dan budaya.
Baca Juga: Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional, peringatan aksi global untuk hapus kemiskinan