ESAI: Literasi dan aktivisme

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB
Yaya Suryana - Jurnalis
Yaya Suryana - Jurnalis

Aktivisme lokal bukan soal meniru gerakan besar di kota-kota lain. Ia berangkat dari keberanian anak mudanya membaca tanah kelahirannya sendiri. Membaca desa, kota, ruang publik, dan kebijakan yang hadir di sekitarnya.

Dari proses membaca itulah lahir sikap, mendukung yang berpihak pada kepentingan publik, dan mengkritik yang menjauh dari keadilan sosial.

Widji Tukul pernah mengingatkan bahwa diam adalah pengkhianatan. Namun sebelum bersuara, seseorang perlu memahami apa yang sedang ia suarakan.

Baca Juga: Kronologi lengkap keracunan massal di SMAN 2 Kudus, 118 siswa alami mual hingga diare usai santap MBG

Di sinilah literasi berperan menjaga aktivisme tetap bermartabat. Aktivisme yang sehat tidak sekadar keras, tetapi juga bertanggung jawab secara intelektual dan moral.

Di era digital, ketika setiap orang bisa berbicara di media sosial, tantangan aktivisme justru semakin besar. Informasi berseliweran, opini bercampur emosi, dan kebenaran sering kalah oleh sensasi.

Tanpa literasi yang kuat, aktivisme mudah terseret arus hoaks dan polarisasi. Sebaliknya, dengan literasi, aktivisme bisa menjadi penjernih ruang publik.

Pada akhirnya, literasi dan aktivisme adalah dua sisi dari kesadaran yang sama. Literasi membentuk cara berpikir, aktivisme mewujudkan keberpihakan.

Baca Juga: Pengakuan Beby Prisillia usai Onad bebas rehabilitasi narkoba: Saya tak bisa tinggalkan dia sendiri

Keduanya dibutuhkan agar anak muda tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan arah masa depan masyarakatnya.

Aktivisme yang berangkat dari literasi bukanlah kegaduhan sesaat. Ia adalah upaya panjang menjaga kepentingan publik, merawat akal sehat, dan membangun martabat sosial, baik di tingkat nasional maupun di tanah kelahiran sendiri.

Yaya Suryana, Jurnalis dan Alumni Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X