Pertama, membangun perjumpaan dan dialog antarumat beragama (interfaith dialogue) secara lebih intensif, guna mengikis prasangka dan memperkuat saling pengertian.
Dokumen ‘Persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup bersama’—singkatnya human fraternity—yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar 4 Februari 2019 patut untuk dipromosikan dan diaplikasikan secara global, sebab isinya sangat positif untuk membangun kesadaran global sebagai sesama anak manusia.
Hari Persaudaraan Manusia Internasional (International Day of Human Fraternity) tiap 4 Februari yang ditetapkan oleh PBB terinspirasi dari dokumen tersebut.
Baca Juga: Foo Fighters siap guncang Jakarta Oktober 2025, ini deretan lagu ikoniknya dari 1995 hingga 2021
Kedua, mendorong negara-negara di dunia untuk memilih jalan damai, mempertahankan keseimbangan strategis antara berbagai kepentingan nasional, dan menghentikan perang.
Potensi konflik sekecil apapun haruslah menjadi perhatian sebab tak jarang hal kecil dapat meningkat menjadi konflik, bahkan perang lebih besar jika tidak ditangani lebih baik.
Termasuk dalam hal ini menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza. Tidak ada jalan lain bagi Israel untuk sesegera mungkin menghentikan perang tersebut dan selanjutnya berfokus pada rekonstruksi dan mendukung solusi dunia negara.
Ketiga, mempromosikan perdamaian dan keadilan secara bersamaan. Pesan ini disuarakan oleh Perdana Inggris Sir Keir Starmer agar Vatikan ‘menyatukan orang-orang dan negara-negara untuk mengatasi berbagai isu utama di zaman kita’, salah satu tugas pentingnya adalah promosi perdamaian dan keadilan di seluruh dunia (Time.com, 9 Mei 2025).
Baca Juga: ESAI: Setelah kunjungan Trump ke Timur Tengah
Tanpa keadilan, perdamaian hanya menjadi ilusi. Damai dan adil adalah dua hal penting—termasuk dalam konteks Gaza dimana masyarakatnya saat ini berada dalam situasi tidak damai dan jelas tidak adil yang dilakukan oleh Israel secara terbuka.
Keempat, memajukan nilai-nilai bersama dan kebaikan universal yang menjunjung tinggi martabat setiap manusia.
Pesan Presiden Israel Isaac Herzog agar kepausan Paus Leo XIV dapat ‘membangun jembatan dan pemahaman antara semua agama dan masyarakat’ dan membangun relasi kuat dengan Vatikan (Kompas.tv, 9 Mei 2025) dapat menjadi pintu masuk diplomasi keagamaan agar negara Yahudi tersebut lebih manusiawi, taat pada hukum internasional, dan berhenti melakukan collective punishment terhadap warga Gaza.
Kelima, meningkatkan kerja sama antar lembaga keagamaan global untuk bersama-sama meredam ekstremisme dan menyuarakan solidaritas global menghadapi isu global yang begitu kompleks.
Baca Juga: Cinta lama bersemi di GBLA, Maruarar Sirait siap kucurkan Rp100 miliar untuk Persib Bandung
Saat ini ada banyak sekali forum global keagamaan, namun ‘suara-suara religius’ yang peduli pada isu global—misalnya climate change, perdamaian, dan lainnya—namu tidak selalu terdengar luas.
Artikel Terkait
Sederet pernyataan kontroversial Trump ini bikin Raja Yordania Abdullah II temui Donald Trump di Gedung Putih: Tolak rencana AS relokasi warga Gaza
Sempat tolak wacana relokasi, kini Menlu Sugiono diutus ke Palestina demi evakuasi warga Gaza ke RI
Karena alasan kemanusiaan, Prabowo siap terima 1.000 orang dari Gaza ditampung di Indonesia
Evakuasi warga Gaza oleh Indonesia hanya bersifat sementara, Prabowo minta persetujuan semua pihak
Pesan paskah terakhir Paus Fransiskus sehari sebelum meninggal dunia, serukan gencatan senjata di Gaza
ESAI: Pembebasan Edan Alexander dan peluang gencatan senjata di Gaza
ESAI: Setelah kunjungan Trump ke Timur Tengah