ESAI: Paus Leo XIV dan harapan perdamaian untuk Gaza

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 25 Mei 2025 | 13:22 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Pertama, membangun perjumpaan dan dialog antarumat beragama (interfaith dialogue) secara lebih intensif, guna mengikis prasangka dan memperkuat saling pengertian.

Dokumen ‘Persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup bersama’—singkatnya human fraternity—yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar 4 Februari 2019 patut untuk dipromosikan dan diaplikasikan secara global, sebab isinya sangat positif untuk membangun kesadaran global sebagai sesama anak manusia.

Hari Persaudaraan Manusia Internasional (International Day of Human Fraternity) tiap 4 Februari yang ditetapkan oleh PBB terinspirasi dari dokumen tersebut.

Baca Juga: Foo Fighters siap guncang Jakarta Oktober 2025, ini deretan lagu ikoniknya dari 1995 hingga 2021

Kedua, mendorong negara-negara di dunia untuk memilih jalan damai, mempertahankan keseimbangan strategis antara berbagai kepentingan nasional, dan menghentikan perang.

Potensi konflik sekecil apapun haruslah menjadi perhatian sebab tak jarang hal kecil dapat meningkat menjadi konflik, bahkan perang lebih besar jika tidak ditangani lebih baik.

Termasuk dalam hal ini menyerukan gencatan senjata permanen di Gaza. Tidak ada jalan lain bagi Israel untuk sesegera mungkin menghentikan perang tersebut dan selanjutnya berfokus pada rekonstruksi dan mendukung solusi dunia negara.

Ketiga, mempromosikan perdamaian dan keadilan secara bersamaan. Pesan ini disuarakan oleh Perdana Inggris Sir Keir Starmer agar Vatikan ‘menyatukan orang-orang dan negara-negara untuk mengatasi berbagai isu utama di zaman kita’, salah satu tugas pentingnya adalah promosi perdamaian dan keadilan di seluruh dunia (Time.com, 9 Mei 2025).

Baca Juga: ESAI: Setelah kunjungan Trump ke Timur Tengah

Tanpa keadilan, perdamaian hanya menjadi ilusi. Damai dan adil adalah dua hal penting—termasuk dalam konteks Gaza dimana masyarakatnya saat ini berada dalam situasi tidak damai dan jelas tidak adil yang dilakukan oleh Israel secara terbuka.

Keempat, memajukan nilai-nilai bersama dan kebaikan universal yang menjunjung tinggi martabat setiap manusia.

Pesan Presiden Israel Isaac Herzog agar kepausan Paus Leo XIV dapat ‘membangun jembatan dan pemahaman antara semua agama dan masyarakat’ dan membangun relasi kuat dengan Vatikan (Kompas.tv, 9 Mei 2025) dapat menjadi pintu masuk diplomasi keagamaan agar negara Yahudi tersebut lebih manusiawi, taat pada hukum internasional, dan berhenti melakukan collective punishment terhadap warga Gaza.

Kelima, meningkatkan kerja sama antar lembaga keagamaan global untuk bersama-sama meredam ekstremisme dan menyuarakan solidaritas global menghadapi isu global yang begitu kompleks.

Baca Juga: Cinta lama bersemi di GBLA, Maruarar Sirait siap kucurkan Rp100 miliar untuk Persib Bandung

Saat ini ada banyak sekali forum global keagamaan, namun ‘suara-suara religius’ yang peduli pada isu global—misalnya climate change, perdamaian, dan lainnya—namu tidak selalu terdengar luas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X