ESAI: Setelah kunjungan Trump ke Timur Tengah

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Minggu, 25 Mei 2025 | 11:58 WIB
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia
Yanuardi Syukur, Peneliti Pusat Riset Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia

Baca Juga: KORPRI usul batas usia pensiun ASN diperpanjang hingga 70 tahun, Istana: Belum dibahas

Menurut saya, pengakuan terhadap Palestina akan meredam sentimen anti-AS yang terus membara akibat ketidakadilan kebijakan luar negerinya.

Sentimen anti-Israel dan anti-AS—sebagai pendukung Israel—sampai saat ini terus terjadi, termasuk demonstrasi berkesinambungan oleh berbagai ormas dan massa aksi di Indonesia.

Satu hal penting bahwa peningkatan kecaman global atas agresi di Gaza dan Tepi Barat dan sinyal perubahan dari negara-negara besar menjadi momentum bagi masyarakat dunia untuk mendorong solusi dua negara (two-state solution) yang semakin terbuka.

Di Inggris, misalnya ada puluhan anggota organisasi Yahudi yang secara terbuka mengkritik kebijakan Pemerintah Israel dalam perang di Gaza (Kompas, 18 April 2025).

Baca Juga: Najwa Shihab unggah foto nisan suami dan putrinya, dimakamkan satu liang lahat: Kini mereka saling berdekapan

Dalam konteks ini, Trump dapat mengambil peran sebagai katalis perdamaian dengan mendukung inisiatif tersebut yang bermakna untuk memperbaiki citra globalnya sebagai ‘man of solution’ masalah Palestina.

Menurut saya, dukungan terhadap keanggotaan penuh Palestina di PBB juga akan menjadi ‘ujian komitmen’ AS terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional.

Kita tahu bahwa keteraturan global harus berbasis pada penghormatan terhadap hukum internasional. Akan tetapi selama ini ada kesan AS kerap menempatkan diri sebagai pembela demokrasi dan hak asasi manusia di satu sisi, tapi dalam isu Palestina kerap inkonsisten.

Dengan mencabut veto, Trump akan menunjukkan bahwa kepemimpinannya mampu menjembatani prinsip-prinsip universal dengan kepentingan strategis nasional, serta menyampaikan pesan kuat bahwa hak menentukan nasib sendiri (the right of self determination) berlaku untuk semua bangsa tanpa diskriminasi.

Baca Juga: Presiden Prabowo siapkan calon dubes RI untuk AS, empat nama masuk pertimbangan

Secara domestik, keberanian Trump untuk mengambil posisi progresif dalam isu Palestina bisa membuka ruang dukungan baru, terutama dari kelompok-kelompok muda, progresif, dan komunitas Muslim-Amerika yang selama ini kritis terhadap kebijakan luar negeri AS.

Ini bisa menjadi manuver politik yang cerdas bagi Trump untuk memperluas basis dukungannya di dalam negeri sambil memperbaiki citra internasionalnya yang selama ini banyak dikritik.

Dengan kata lain, diplomasi terhadap Palestina tidak hanya urusan luar negeri, tetapi juga menyentuh kepentingan politik dalam negeri AS dan itu secara langsung akan berdampak pada visi Make America Great Again dalam konteks negara adidaya yang akan dipuji dan dikenang sebagai negara yang menjadi solusi krisis Palestina.

Terkait inisiatif di atas, tentu saja Presiden Trump harus mampu menghadapi tekanan besar dari lobi pro-Israel di dalam negeri, terutama dari kelompok-kelompok yang selama ini menjadi basis politiknya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X