ESAI: Generasi yang tak punya nyali bertanya

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Jumat, 25 April 2025 | 23:50 WIB
Ilustrasi - Seorang anak yang butuh bimbingan literasi
Ilustrasi - Seorang anak yang butuh bimbingan literasi

Di negeri yang menjunjung tinggi slogan 'membaca adalah jendela dunia', kita seringkali lupa bahwa tak semua anak dilahirkan di rumah yang memiliki jendela.

Kita menyerukan agar generasi muda gemar membaca, sembari membiarkan perpustakaan sekolah tertutup debu dan distribusi buku-buku bacaan tak pernah merata.

Buku dipuja dalam wacana, tapi dipinggirkan dalam kenyataan. Kita mendamba anak-anak yang haus ilmu, namun hanya menyediakan padang gurun sebagai satu-satunya medan untuk tumbuhnya dahaga. 

"Manusia tidak dilahirkan untuk menjadi pembaca," tulis Alberto Manguel dalam A History of Reading, "Ia belajar untuk membaca melalui cinta dan dorongan."

Baca Juga: Pengacara yang menggugat ijazah palsu Jokowi jadi tersangka pemalsuan surat

Tapi bagaimana cinta bisa tumbuh jika ruang yang seharusnya mengasuhnya justru penuh dengan ketidakpedulian?

Anak-anak kita bukan tidak ingin membaca. Mereka hanya tak pernah diperkenalkan pada dunia di balik halaman-halaman imaji dalam sebuah buku. Mereka tak malas. Mereka hanya tak tahu pintu mana yang bisa diketuk.

Harga buku yang terus melonjak hanyalah satu dari sekian banyak pagar tak kasatmata yang kita bangun. Negara, dalam diamnya, bersikap seperti penjaga perpustakaan yang enggan membaca—hadir tanpa jiwa, hidup tanpa gairah.

Ia tak melarang, tapi juga tak memudahkan. Seperti kata Slavoj Zizek, 'kekuasaan modern tidak melarangmu secara langsung; ia hanya membuat pilihan-pilihan penting semakin tidak bisa diakses.'

Baca Juga: Tak hanya ke Bareskrim Polri, Rayen Pono kini laporkan Ahmad Dhani soal dugaan penghinaan ke MKD DPR

Dan buku, pelan-pelan menjadi barang mewah. Membaca menjadi kegiatan elitis, seolah hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah kenyang dan tak dihantui oleh rasa lapar. 

Kita menciptakan generasi yang nyaman dalam keheningan tanpa makna. Generasi yang tak diberi ruang untuk bertanya karena pertanyaan dianggap mengganggu tatanan.

Padahal, seperti diungkapkan Paulo Freire, pendidikan sejatinya adalah 'praktik kebebasan', bukan penjinakan massal. Tapi hari ini, kita memilih sistem yang melahirkan murid yang patuh, bukan yang gelisah oleh pertanyaan.

Sekolah menjadi tempat di mana suara individu dihapus agar tak mengganggu harmoni yang semu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X