Baca Juga: ESAI: Panggung goyang Bu Salsa: Legitimasi sensasi di atas etika
Maka, tugas kita adalah menata kembali bukan hanya sistem, tetapi makna dari seluruh perjalanan belajar itu sendiri.
Pendidikan bukan sekadar soal masuk universitas, tetapi soal bagaimana keluar dari kebodohan sistemik yang mengurung nalar dan rasa keadilan kita.
Apakah kita berani membayangkan sistem yang tidak menanyakan, 'Kamu jurusan apa?', tetapi 'Apa yang kamu cintai? Untuk siapa kamu belajar?'
Dan lebih jauh lagi, 'Mampukah kita membangun dunia di mana semua ilmu, semua manusia, semua jalan berdiri dalam martabat yang setara, tanpa perlu saling merendahkan?'
Fileski Walidha Tanjung, penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, prosa, dan puisi di berbagai media nasional.
Artikel Terkait
Panen Karya P5, PLT Kepala Sekolah SMPN 3 Subang ajak tenaga pendidik untuk bertranformasi menuju era digitalisasi
Gelar P5, para pelajar SMPN 1 Subang tampilkan berbagai macam kesenian daerah yang memukau
Mendikdasmen libatkan sekolah swasta dalam SPMB, sebut daya tampung sekolah negeri jadi salah satu pertimbangan
Anggaran SMK dan vokasi dipangkas sampai Rp1 triliun, DPR: Mereka perlu pelatihan
Libatkan UMKM lokal dan pekerja seni, JBZ Expo 2.0 sukses digelar di Kabupaten Subang
Ingin tingkatkan kualitas pendidikan, Prabowo janji berikan TV besar ke tiap sekolah
ESAI: Kabupaten Subang dan kepemimpinan kaum muda, antara harapan dan tantangan