ESAI: Kembali pada stereotip warisan pada penjurusan IPA IPS di SMA

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 12 April 2025 | 22:15 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: ESAI: Panggung goyang Bu Salsa: Legitimasi sensasi di atas etika

Maka, tugas kita adalah menata kembali bukan hanya sistem, tetapi makna dari seluruh perjalanan belajar itu sendiri.

Pendidikan bukan sekadar soal masuk universitas, tetapi soal bagaimana keluar dari kebodohan sistemik yang mengurung nalar dan rasa keadilan kita.

Apakah kita berani membayangkan sistem yang tidak menanyakan, 'Kamu jurusan apa?', tetapi 'Apa yang kamu cintai? Untuk siapa kamu belajar?'

Dan lebih jauh lagi, 'Mampukah kita membangun dunia di mana semua ilmu, semua manusia, semua jalan berdiri dalam martabat yang setara, tanpa perlu saling merendahkan?' 

Fileski Walidha Tanjung, penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, prosa, dan puisi di berbagai media nasional. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X