Baca Juga: Beberapa Menteri Prabowo mendadak temui Jokowi di Solo, PKS singgung soal ‘matahari kembar’
Dan barangkali, dalam sekolah-sekolah kita, semua siswa dianggap pintar, tetapi siswa IPA dianggap lebih pintar daripada yang lainnya.
Maka pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah penjurusan harus dihidupkan atau tidak, melainkan: apa yang sesungguhnya ingin kita bentuk dari sebuah sistem pendidikan?
Apakah kita tengah merancang ruang belajar yang hanya menghasilkan 'kecakapan teknis' tanpa dimensi kesadaran sosial? Apakah kita hendak melanggengkan kebanggaan yang dibangun dari citra, bukan substansi?
Apakah kita tega membiarkan anak-anak kita tumbuh di bawah bayang-bayang nilai-nilai semu, yang menilai manusia dari jurusan apa mereka berasal, bukan dari siapa mereka sebenarnya?
Baca Juga: Warga Subang antusias ikuti program diskon 50 persen pemasangan air baru dari Perumda TRS
Sistem pendidikan, pada akhirnya, bukanlah tentang menyortir dan memilah, tetapi tentang merawat dan membuka.
Ia adalah ruang tempat anak-anak kita belajar mengenali dirinya sendiri bukan dalam diam-diam, tapi dalam terang nalar, empati, dan kesadaran.
Jika sistem hanya mengajarkan anak untuk menyesuaikan diri dengan kerangka yang sudah ada, tanpa memberi ruang untuk bertanya dan memilih, maka kita sesungguhnya sedang membesarkan generasi yang tahu bagaimana menjawab soal, tapi tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan.
Dan bukankah pertanyaan yang jujur, yang dalam, yang lahir dari kegelisahan dan kasih—adalah inti dari pendidikan yang sejati?
Baca Juga: PT Dahana kembali ekspor 250 ton bahan peledak ke Australia
Barangkali, kini saatnya kita bertanya: dalam dunia yang makin kompleks dan terhubung ini, jenis manusia seperti apa yang benar-benar dibutuhkan?
Apakah kita membutuhkan lebih banyak anak-anak yang mahir menghitung, tetapi kehilangan keberanian untuk memahami penderitaan sesamanya?
Atau kita membutuhkan anak-anak yang tak hanya tahu bagaimana dunia bekerja, tetapi juga mengapa dunia bisa sekejam ini terhadap sebagian orang?
Jika pendidikan hanya menjadi arena seleksi, bukan ladang pembebasan, maka kita telah kehilangan arah. Kita tidak sedang mendidik manusia, kita hanya sedang membentuk teknisi.
Artikel Terkait
Panen Karya P5, PLT Kepala Sekolah SMPN 3 Subang ajak tenaga pendidik untuk bertranformasi menuju era digitalisasi
Gelar P5, para pelajar SMPN 1 Subang tampilkan berbagai macam kesenian daerah yang memukau
Mendikdasmen libatkan sekolah swasta dalam SPMB, sebut daya tampung sekolah negeri jadi salah satu pertimbangan
Anggaran SMK dan vokasi dipangkas sampai Rp1 triliun, DPR: Mereka perlu pelatihan
Libatkan UMKM lokal dan pekerja seni, JBZ Expo 2.0 sukses digelar di Kabupaten Subang
Ingin tingkatkan kualitas pendidikan, Prabowo janji berikan TV besar ke tiap sekolah
ESAI: Kabupaten Subang dan kepemimpinan kaum muda, antara harapan dan tantangan