ESAI: Kembali pada stereotip warisan pada penjurusan IPA IPS di SMA

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 12 April 2025 | 22:15 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Beberapa Menteri Prabowo mendadak temui Jokowi di Solo, PKS singgung soal ‘matahari kembar’

Dan barangkali, dalam sekolah-sekolah kita, semua siswa dianggap pintar, tetapi siswa IPA dianggap lebih pintar daripada yang lainnya.

Maka pertanyaannya kini bukan lagi soal apakah penjurusan harus dihidupkan atau tidak, melainkan: apa yang sesungguhnya ingin kita bentuk dari sebuah sistem pendidikan?

Apakah kita tengah merancang ruang belajar yang hanya menghasilkan 'kecakapan teknis' tanpa dimensi kesadaran sosial? Apakah kita hendak melanggengkan kebanggaan yang dibangun dari citra, bukan substansi?

Apakah kita tega membiarkan anak-anak kita tumbuh di bawah bayang-bayang nilai-nilai semu, yang menilai manusia dari jurusan apa mereka berasal, bukan dari siapa mereka sebenarnya?

Baca Juga: Warga Subang antusias ikuti program diskon 50 persen pemasangan air baru dari Perumda TRS

Sistem pendidikan, pada akhirnya, bukanlah tentang menyortir dan memilah, tetapi tentang merawat dan membuka.

Ia adalah ruang tempat anak-anak kita belajar mengenali dirinya sendiri bukan dalam diam-diam, tapi dalam terang nalar, empati, dan kesadaran.

Jika sistem hanya mengajarkan anak untuk menyesuaikan diri dengan kerangka yang sudah ada, tanpa memberi ruang untuk bertanya dan memilih, maka kita sesungguhnya sedang membesarkan generasi yang tahu bagaimana menjawab soal, tapi tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan.

Dan bukankah pertanyaan yang jujur, yang dalam, yang lahir dari kegelisahan dan kasih—adalah inti dari pendidikan yang sejati?

Baca Juga: PT Dahana kembali ekspor 250 ton bahan peledak ke Australia

Barangkali, kini saatnya kita bertanya: dalam dunia yang makin kompleks dan terhubung ini, jenis manusia seperti apa yang benar-benar dibutuhkan?

Apakah kita membutuhkan lebih banyak anak-anak yang mahir menghitung, tetapi kehilangan keberanian untuk memahami penderitaan sesamanya?

Atau kita membutuhkan anak-anak yang tak hanya tahu bagaimana dunia bekerja, tetapi juga mengapa dunia bisa sekejam ini terhadap sebagian orang?

Jika pendidikan hanya menjadi arena seleksi, bukan ladang pembebasan, maka kita telah kehilangan arah. Kita tidak sedang mendidik manusia, kita hanya sedang membentuk teknisi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X