ESAI: Kembali pada stereotip warisan pada penjurusan IPA IPS di SMA

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Sabtu, 12 April 2025 | 22:15 WIB
Fileski Walidha Tanjung, Penulis
Fileski Walidha Tanjung, Penulis

Baca Juga: Didit Hediprasetyo bikin heboh karena mengumpulkan anak presiden, Prabowo selalu beri pesan begini soal persahabatan meski jadi lawan politik

Miranda Fricker menyebut ini sebagai 'epistemic injustice', ketika seseorang dirugikan karena jenis pengetahuannya tidak dianggap sah atau valid dalam struktur dominan.

Regulasi pemerintah seharusnya hadir bukan untuk memperkuat dominasi, melainkan menciptakan ruang keadilan.

Dalam hal ini, sudah semestinya ada aturan tegas yang melarang jurusan IPA masuk ke prodi sosial-humaniora di perguruan tinggi.

Bukan untuk membatasi pilihan, tapi untuk memulihkan simetri keadilan bagi siswa-siswa IPS dan Bahasa yang selama ini tidak diberi ruang yang setara.

Baca Juga: Soal rencana Prabowo tambah impor gas LGN dari AS, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia justru ngaku tak tahu

Jika seseorang ingin belajar sosiologi, biarkan ia datang dari latar pendidikan sosiologi juga karena pemahaman tentang manusia dan masyarakat tidak bisa dibangun hanya lewat logika ilmiah dan eksperimen laboratorium.

Setiap penjurusan mestinya dihargai sebagai jalan pengetahuan yang setara, bukan hierarki. Pierre Bourdieu dalam Distinction menunjukkan bagaimana sistem pendidikan bisa menjadi alat legitimasi kelas sosial melalui simbol budaya.

Jika kita tidak hati-hati, sistem penjurusan yang rigid justru akan menjadi medium baru reproduksi ketimpangan, bukan solusi pendidikan.

Barangkali sudah waktunya kita berhenti memandang pendidikan sebagai jalur satu arah menuju universitas unggulan.

Baca Juga: Sudah tak jadi kuasa hukum Vadel Badjideh hingga berseteru, Bintang Badjideh ungkap kondisi hubungan keluarga dengan Razman Arif Nasution

Pendidikan bukan pabrik pencetak lulusan yang sesuai cetak biru birokrasi, melainkan taman yang memungkinkan setiap individu tumbuh sesuai bentuk dan arah yang mereka pilih sendiri.

Untuk itu, diperlukan keberanian kebijakan yang tidak sekadar pragmatis, melainkan visioner—berani memikirkan ulang fondasi epistemik dan sosial dari pendidikan itu sendiri.

Jika penjurusan dihidupkan kembali, maka ia harus dihidupkan dengan kesadaran bahwa semua jurusan berdiri sejajar dalam martabat intelektual.

Tanpa itu, kita hanya akan terus mengulang apa yang pernah ditulis George Orwell dalam Animal Farm: 'All animals are equal, but some animals are more equal than others.'

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X