ESAI : Peran konten media sosial dalam sampaikan pesan kemanusiaan

photo author
Redaksi, Genmilenial
- Rabu, 21 Agustus 2024 | 16:50 WIB
M. Dodi Rusli. Head of Media Assyifa Islamic Philanthropy
M. Dodi Rusli. Head of Media Assyifa Islamic Philanthropy

Sebagai makhluk sosial, aktivitas kita tidak terlepas dari hal-hal yang melibatkan akal dan perasaan, World Giving Index 2023 melaporkan bahwasanya masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan tingkat kepedulian dan kedermawanan nomor satu di dunia.

Hal ini bukan stempel semata, selain pada dunia nyata, gerak-gerik masyarakat Indonesia di dunia maya pun bukan sekedar ajang publikasi cerita pribadi, banyak dari kita yang baik sengaja atau tidak turut meviralkan konten-konten yang menyayat hati, tanpa diminta.

Hampir seluruh platform digital zaman sekarang menggunakan setidaknya dua indera dalam penyajian kontennya yaitu penglihatan dan pendengaran, hal ini dimungkinkan agar pengguna akun betah berlama-lama ketika mengunakannya.

Kita melihat bagaimana media sosial seperti facebook, instragram, tiktok, bahkan youtube sekalipun terus berupaya menyajikan fitur yang sama dengan trend media sosial di era kini, semuanya dibuat bisa posting foto atau gambar, video, dan juga tulisan.

Baca Juga: Hadiri Job Fair SMKN 1 Subang, Dr. Imran sebut 3 kunci kemajuan bangsa, apa saja itu? 

Tayangan video-video pendek atau foto yang diposting pada berbagai media sosial memiliki ruhnya sendiri, ia seolah bercerita dengan caranya.

Jika kita menyikapinya sebagai lazimnya mahluk sosial, cerita tentang keprihatihan dan perjuangan hidup, mampu membuat hati kita tergerak untuk turut membantu dan bertanya pada diri sendiri, dengan apa saya bisa membantu?

Setidaknya jawabannya adalah minimal dengan mendoakan atau sekedar menyebarkan kembali konten tersebut.

Rasa peduli salah satunya dapat muncul ketika kita tertegun dengan apa yang kita saksikan, baik secara langsung atau melalui media.

Hal ini dimungkinkan bisa karena memang kejadiannya dekat dengan keseharian kita atau hal serupa sempat menimpa kita, sehingga kita tau benar bagaimana rasanya diposisi itu.

Baca Juga: Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UNAS Jakarta raih medali perunggu pada ajang film pendek di Malaysia

Konten-konten media sosial misal tentang postingan bantu larisin jajan, konten borong jajanan, bantu bangun sekolah didaerah pelosok, pembiayaan kesehatan warga, hingga konten tentang kondisi saudara-saudara kita di Palestina yang sedang berjuang merebut kemerdekannya hari ini.

Hal tersebut merupakan bentuk konten media sosial yang menyisipkan nilai-nilai kemanusiaan didalamnya yang tentu bara apinya harus kita jaga agar tidak kalah pamor dengan konten-konten yang bernilai hedonisme semata.

Pada akhirnya, di dunia nyata atau maya sekalipun kita akan selamat jika berpedoman pada ajaran dan anjuran Rasulullah SAW, dalam sabda beliau 'Khoirunnas anfa'uhum linnas' memberitahu kita semua bahwa untuk menjadi sebaik-baiknya manusia adalah dengan menjadi bermanfaat bagi manusia lainnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

ESAI: Mengapa kita harus menulis

Senin, 1 Juni 2026 | 14:45 WIB

ESAI: Literasi dan aktivisme

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:22 WIB

ESAI: Puisi Chairil Anwar dan filsafat eksistensialisme

Selasa, 30 Desember 2025 | 11:59 WIB

ESAI: Pilar keempat demokrasi, menjaga akal sehat publik

Selasa, 23 Desember 2025 | 23:52 WIB

ESAI: Subang menyala, tak gelap!

Minggu, 16 November 2025 | 18:34 WIB

ESAI: Benarkah guru 'terjepit dan katempuhan'?

Selasa, 21 Oktober 2025 | 14:09 WIB
X