10 Puisi karya Sapardi Djoko Damono, salah satunya 'Yang fana adalah waktu'

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Selasa, 21 Maret 2023 | 14:04 WIB
Penyair dan Guru Besar Sastra UI Sapardi Djoko Damono
Penyair dan Guru Besar Sastra UI Sapardi Djoko Damono

Baca Juga: Inilah nasihat penting Buya Hamka kepada kaum muda

6. Sajak tafsir 

Kau bilang aku burung? 
Jangan sekali-kali berkhianat 
Kepada sungai, ladang, dan batu 
Aku selembar daun terakhir 
Yang mencoba bertahan di ranting 
Yang membenci angin 
Aku tidak suka membayangkan 
Keindahan kelebat diriku 
Yang memimpikan tanah 
Tidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku 
Ke dalam bahasa abu 
Tolong tafsirkan aku 
Sebagai daun terakhir 
Agar suara angin yang meninabobokan 
Ranting itu padam 
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat 
Untuk bisa lebih lama bersamamu 
Tolong ciptakan makna bagiku 
Apa saja – aku selembar daun terakhir 
Yang ingin menyaksikanmu bahagia 
Ketika sore tiba. 

7. Pada suatu hari nanti 

Pada suatu hari nanti
Jasadku tak akan ada lagi
Tapi dalam bait-bait sajak ini
Kau tak akan kurelakan sendiri 
Pada suatu hari nanti 
Suaraku tak terdengar lagi
Tapi diantara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati.
Pada suatu hari nanti
Impianku pun tak dikenal lagi
Namun di sela-sela huruf sajak ini 
Kau tak akan letih-letihnya kucari

8. Menjenguk wajah di kolam 

Jangan kau ulang lagi 
Menjenguk wajah 
Yang merasa sia-sia
Yang putih yang pasi itu
Jangan sekali-kali membayangkan 
Wajahmu bagai rembulan. 

Baca Juga: Penyair Wiji Thukul dan 7 puisi perlawananya terhadap ketidakadilan

9. Kenangan 

Ia meletakkan kenangannya 
Dengan sangat hati-hati 
Di laci meja dan menguncinya 
Memasukkan anak kunci ke saku celana 
Sebelum berangkat ke sebuah kota 
Yang sudah sangat lama hapus 
Dari peta yang pernah digambarnya 
Pada suatu musim layang-layang 
Tak didengarnya lagi 
Suara air mulai mendidih 
Di laci yang rapat terkunci.
Ia telah meletakkan hidupnya 
Di antara tanda petik 

10. Kita saksikan (1967) 

Kita saksikan burung-burung lintas di udara 
Kita saksikan awan-awan kecil di langit utara 
Waktu itu cuaca pun senyap seketika 
Sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya   
Di antara hari buruk dan dunia maya 
Kita pun kembali mengenalnya 
Kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata 
Saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia. (Ghin Ninda Wr)***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X