Menanggapi kekhawatiran publik yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis 1998, Chatib menegaskan situasi ekonomi Indonesia saat ini berbeda secara fundamental.
“Sama nggak 1998 dengan 2026? My answer is no,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada sistem nilai tukar yang kini lebih fleksibel, sehingga mampu meredam tekanan eksternal.
Baca Juga: Qodari rilis buku ‘Presiden Solusi’, beberkan 108 terobosan pemerintahan Prabowo
Secara keseluruhan, Chatib menilai pelemahan rupiah tidak akan membawa Indonesia ke jurang resesi.
Pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 hingga 5 persen masih tergolong baik dalam konteks global.***
Artikel Terkait
Dollar terus melesat dan buat rupiah terperosok, begini cara BJ Habibie menguatkan rupiah usai krisis moneter
Soroti rupiah yang tembus Rp17.000-an, Luhut klaim masih di batas normal dan sebut Indonesia masih diminati investor Tiongkok
Prabowo ungkap kekayaan RI yang dirampas Belanda setara 31 triliun dolar AS, atau 140 kali APBN
OTT Wamenaker Noel: KPK sita Nissan GT-R hingga Ducati miliaran rupiah
Rupiah dan IHSG anjlok usai reshuffle, Airlangga: Hanya sentimen pasar, kondisi sementara
Harris Turino angkat bicara soal rencana redenominasi rupiah, pastikan kawal momentum pelaksanaan kebijakan
Redenominasi rupiah masuk Renstra dan Prolegnas 2025–2029, pemerintah pastikan tak dilakukan dalam waktu dekat