Rupiah melemah bukan sekadar dampak global, Chatib Basri ungkap biang kerok ada di kepercayaan fiskal

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Rabu, 10 Juni 2026 | 11:50 WIB
Menyoroti penuturan eks Menkeu periode 2013-2014, Chatib Basri terkait pelemahan nilai tukar rupiah bagi Indonesia (Instagram.com/@chatibbasri)
Menyoroti penuturan eks Menkeu periode 2013-2014, Chatib Basri terkait pelemahan nilai tukar rupiah bagi Indonesia (Instagram.com/@chatibbasri)

Chatib juga mengungkap bahwa tren memburuknya CDS Indonesia sudah terlihat sejak Januari 2026.

Kondisi tersebut bahkan terjadi sebelum memanasnya konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga: Rekonstruksi daycare Little Aresha Yogyakarta diwarnai teriakan orang tua korban, 23 adegan kekerasan diperagakan

Menurutnya, perubahan outlook oleh lembaga pemeringkat Moody’s serta kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen menjadi pemicu utama meningkatnya risiko fiskal.

Hal ini menjelaskan mengapa pelemahan rupiah terjadi lebih dalam dibandingkan negara lain yang juga terdampak dinamika global.

Dampak ke inflasi dan dunia usaha

Dari sisi inflasi, dampak pelemahan rupiah dinilai masih relatif terbatas.

Berdasarkan estimasi Bank Indonesia, setiap depresiasi Rp1 terhadap dolar AS hanya menyumbang tambahan inflasi sebesar 0,13 persen.

Baca Juga: Rekonstruksi kasus daycare Little Aresha ungkap fakta miris, pengasuh ikat balita atas perintah ketua yayasan

Dengan pelemahan rupiah sekitar 8 persen, efek terhadap inflasi umum diperkirakan masih di bawah 1 persen.

Meski demikian, kenaikan harga berpotensi lebih terasa pada produk berbasis impor seperti plastik dan besi.

Di sisi lain, sektor swasta menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menyerap kenaikan biaya produksi.

Jika diserap, margin keuntungan akan tergerus dan berpotensi menahan laju pertumbuhan korporasi pada paruh kedua 2026.

Baca Juga: BI rate naik jadi 5,5 persen, ini dampak bagi masyarakat dan dunia usaha

Bukan krisis seperti 1998

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X