Ia menambahkan, kondisi pengungsian yang padat dan minim fasilitas sanitasi dapat mempercepat penularan penyakit jika tidak diimbangi dengan layanan medis yang memadai.
Baca Juga: Harga Sembako melambung hingga dua kali lipat, warga Takengon rela jalan kaki 5 jam ke Bener Meriah
Cegah KLB, layanan medis harus sejak awal
Dalam paparannya, dokter Daeng juga menyinggung potensi kejadian luar biasa (KLB) pascabanjir, seperti campak hingga ISPA, yang bisa menyerang banyak pengungsi dalam waktu singkat.
“Itu yang kita hindari, karena kalau terjadi seperti itu, yang di pengungsian tambah menderita,” ujarnya.
“Oleh karena itu, memang penanganan kesehatan itu selain makanan dan air bersih, penting sekali untuk cepat dilayani,” sambungnya.
Ia menegaskan, pembukaan posko kesehatan seharusnya dilakukan sejak awal masa pengungsian, bukan menunggu hingga muncul banyak keluhan penyakit.
Baca Juga: Masih terisolir, bantuan ke Desa Pasir Gayo Lues harus seberangi sungai deras dan jembatan tali
Pelayanan medis dimulai usai fase evakuasi
Mengenai waktu penanganan, dokter Daeng menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan harus segera aktif setelah fase pencarian dan penyelamatan selesai dilakukan.
“Pertama itu biasanya kan pencarian dan penyelamatan. Di pencarian dan penyelamatan itu sekaligus pertolongan pertama dan evakuasi. Itu biasanya dikumpulkan di tempat tertentu,” jelasnya.
“Pelayanannya sudah harus dimulai untuk mencegah penyakit-penyakit itu tidak menyebar, tidak tambah buruk,” lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa keterlambatan pelayanan medis dapat memperparah penderitaan warga terdampak.
“Kalau terlambat penanganan, kasihan sudah menderita, tidak punya apa-apa, kemudian sakit, tidak ada yang menangani. Sakitnya akan tambah parah dan menyebar ke camp,” tegasnya.
Artikel Terkait
Mantan Ketum PB IDI ingatkan pelayanan kesehatan di posko pengungsi banjir Sumatera: Harus cepat ditolong tanpa rujukan RS
Tak hanya fisik, mental penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang mulai lelah pascabencana
Sebulan berlalu, warga Aceh Tamiang ceritakan detik-detik 18 orang bertahan di atap rumah saat banjir datang
Aki alat berat dicuri, warga Lapau Munggu terpaksa perkuat tanggul sungai secara manual
Banjir bandang hantam Agam lagi, Sungai Maninjau penuh batu dan kayu hantam permukiman
Dapat bantuan via helikopter, warga Gayo Lues justru beri durian dan manggis untuk TNI
Menunggu bantuan air bersih, warga Tamiang Hulu bertahan gunakan air sisa banjir untuk kebutuhan sehari-hari