Ia menekankan bahwa kepercayaan publik akan menguat bila pemerintah bersikap royal dalam membantu korban.
Baca Juga: Anggota DPRD Subang H. Anharudin: Bencana Sumatera cermin kerusakan lingkungan
“Kalau pemerintah itu royal, masyarakat akan loyal. Tapi kalau pemerintah hitung-hitungan, pelit, ya masyarakat jadi pelit juga,” ujarnya.
Ia menyebut pendekatan efisiensi anggaran sebagai salah satu faktor yang memperparah penanganan di lapangan.
Efisiensi anggaran dinilai hambat penanganan
Iqbal menyoroti adanya pemangkasan anggaran transfer daerah, termasuk ke Sumatera Barat yang disebutnya mencapai Rp2 triliun.
Pemotongan itu membuat daerah kehilangan kemampuan untuk merespons cepat.
“Sumatera Barat itu dipotong Rp2 triliunan, nggak punya apa-apa. Pak Gubernur mau ngapain? Resources udah nggak ada,” katanya.
Ia juga menyebut beberapa bupati di Aceh sebelumnya mengeluarkan surat ketidakmampuan menangani bencana karena keterbatasan anggaran.
Karena itu, ia meminta pemerintah pusat hadir secara penuh dan tidak segan meminta bantuan negara tetangga bila dibutuhkan.
“Pemerintah pusat itu harus jor-joran. Bila perlu kita minta bantuan tetangga, nggak usah gengsi,” tambahnya.
Dampak psikologis warga harus jadi perhatian
Selain persoalan anggaran dan bantuan fisik, Iqbal mengingatkan pemerintah agar memperhatikan dampak psikologis para penyintas.
Artikel Terkait
Cerita pilu Ferry Irwandi tembus daerah terisolir untuk salurkan bantuan bencana Sumatera
Menteri LH Hanif Faisol tindak tegas dugaan kayu gelondongan perparah banjir Sumatera
Menhan Sjafrie siapkan helikopter khusus untuk antisipasi penyakit pascabanjir di Sumatera
Harga kebutuhan pokok melonjak saat banjir, Mualem minta Mendagri tindak pedagang nakal
Gubernur Aceh buka pintu bantuan internasional, soroti Tim China hingga imbau warga tak ambil kesempatan
Anggota DPRD Subang H. Anharudin: Bencana Sumatera cermin kerusakan lingkungan
DPR usul bentuk kementerian khusus bencana, soroti skala musibah nasional yang kian meningkat