WALHI ungkap deforestasi masif di Sumatera, 1,4 juta hektare hutan hilang 2016-2024

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Sabtu, 6 Desember 2025 | 00:04 WIB
Kayu gelondongan yang menghantam rumah-rumah di Tapanuli Selatan saat banjir bandang (Instagram/sumutnusantara)
Kayu gelondongan yang menghantam rumah-rumah di Tapanuli Selatan saat banjir bandang (Instagram/sumutnusantara)

“Proyek-proyek energi, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala besar dan pembangkit listrik tenaga mini, juga berdampak pada kerusakan hutan. Kapasitas di lapangan sering lebih besar dari laporan izin,” ungkap Uli.

Izin berdampak pada fungsi hutan dan DAS

Uli menambahkan, pemberian izin secara masif merusak fungsi hutan sebagai pengatur tata air.

“Itu semua mendorong kerusakan hutan, perubahan bentang hutan, dan otomatis menghilangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air,” katanya.

Baca Juga: Industri dan pemerintah bersinergi, Desa Patimban nikmati jalan baru dan rumah layak huni

Hutan yang rusak menyebabkan aliran air langsung masuk ke daerah aliran sungai (DAS).

“Walhi Aceh menemukan 90 persen DAS yang rusak di Aceh karena masifnya pertambangan ilegal. Di Sumatera Barat juga sama,” lanjutnya.

“Hutannya rusak, DAS rusak, dan ketika hujan deras datang, pertahanan ekologis jebol, banjir dan longsor terjadi, membawa kayu gelondongan,” tegasnya.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X