Atalia juga menegaskan, jika ditemukan unsur kelalaian konstruksi, maka pihak terkait harus bertanggung jawab sebelum pemerintah berbicara soal pembangunan ulang.
Risiko kecemburuan antar Ponpes
Pandangan senada disampaikan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Ia menilai wacana penggunaan APBN belum final dan masih memerlukan kajian mendalam.
“Belum ada kesimpulan. Tapi DPR mendorong agar perhatian pemerintah terhadap pesantren dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya untuk Al Khoziny,” kata Dasco.
Menurutnya, banyak ponpes di daerah lain yang juga mengalami kerusakan dan membutuhkan perhatian.
Karena itu, penggunaan APBN untuk satu ponpes berpotensi memicu kecemburuan sosial di kalangan lembaga pendidikan keagamaan lain.
Hingga kini, wacana pembangunan ulang Ponpes Al Khoziny dengan dana APBN masih menjadi polemik.
Pemerintah diminta berhati-hati agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan ketimpangan dan tetap menjunjung keadilan sosial.***
Artikel Terkait
Presiden Prabowo instruksikan evaluasi nasional usai 49 jenazah ditemukan di reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Proses hukum ambruknya Ponpes Al Khoziny: Bersabar tunggu evakuasi selesai untuk mulai penyidikan
Fakta baru di balik ambruknya Ponpes Al Khoziny: Hanya 50 dari 42 ribu pesantren di Indonesia yang punya izin bangunan
Pihak Ponpes Al Khoziny minta maaf, polisi tetap lanjutkan proses hukum hingga dapat dukungan dari MPR
Menag akui minimnya anggaran pesantren, pembangunan ulang Ponpes Al Khoziny akan dibiayai APBN
Kasus ambruknya Ponpes Al Khoziny naik ke tahap penyidikan, Polda Jatim periksa 17 saksi
Rencana renovasi Ponpes Al Khoziny pakai APBN masih kabur: Menkeu Purbaya ngaku belum diberi tahu, Menteri PU bilang 'masih police line'