“Itulah perubahan yang berjalan, mulai dari 1 menjadi 2, 2 menjadi 4, 4 menjadi 8, dan seterusnya. Pada akhirnya, gerakan yang awalnya kecil bisa tidak terbendung,” jelas Tom.
Baca Juga: Israel, negara kolonial pemukim: Wawancara khusus dengan Yanuardi Syukur
Tuntutan yang bisa berkembang
Eks Mendag RI itu menilai tuntutan 17 plus 8 lahir dari aspirasi publik yang bisa berkembang menjadi gerakan besar jika dijalani konsisten.
“Seperti analogi tadi, sebutir beras jika sudah memenuhi setengah bagian kotak catur, gelombang akan semakin besar dan tidak terbendung,” ujarnya.
Tom menegaskan, aspirasi publik yang kini bergulir harus dipandang sebagai bagian dari konsistensi memperbaiki sistem pemerintahan, demi kepentingan masyarakat Indonesia.***
Artikel Terkait
Abolisi Tom Lembong disetujui DPR, Kejagung: Kami akan pelajari dulu
Kenapa Tom Lembong dan Hasto diberi pengampunan? Ini alasan Prabowo yang tak biasa
Fakta di balik senyum Tom Lembong saat diborgol, ternyata pesan sang istri jadi alasan
Tanggapi isu 17 plus 8, Menkeu: Demo akan hilang jika ekonomi tumbuh cepat
Menkeu Purbaya klarifikasi soal tuntutan 17 plus 8, minta maaf dan janji perbaiki komunikasi publik
RUU Perampasan Aset mandek sejak 2009, kini jadi tuntutan utama dalam aksi 17 plus 8
Tom Lembong soroti aksi demo Agustus 2025: Indonesia alami ‘down cycle’ seperti Nepal dan Filipina