khazanah

Whoosh: Ketika ambisi politik mengalahkan rasionalitas ekonomi

Minggu, 19 Oktober 2025 | 14:54 WIB
Ilustrasi Whoosh. Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh (KCIC)

 

GENMILENIAL.ID – Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh yang semula dielu-elukan sebagai simbol kemajuan peradaban, kini justru menjadi sorotan tajam publik.

Dua tahun sejak diresmikan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator mencatat kerugian beruntun, lebih dari Rp2,6 triliun pada 2024 dan hampir Rp1 triliun di semester pertama 2025.

Pendapatan tiket yang tak sebanding dengan biaya operasional serta cicilan pinjaman luar negeri membuat proyek ini menjadi simbol paradoks pembangunan, ambisi besar dengan manfaat terbatas.

Baca Juga: Mahfud MD vs KPK soal dugaan mark up Whoosh: Nggak perlu lapor, langsung selidiki

Menurut Dr. Harris Turino Kurniawan, Kapoksi XI PDI Perjuangan DPR RI, proyek Whoosh mencerminkan bagaimana kebijakan publik bisa kehilangan rasionalitas ekonomi ketika kepentingan politik dan bias psikologis mengambil alih perhitungan.

'Bayi sungsang sejak dari kandungan'

Dr. Harris menilai proyek ini sudah bermasalah sejak perencanaan. Ia mengibaratkannya seperti 'bayi yang sungsang sejak dalam kandungan.'

Saat masih bertugas di Komisi VI DPR RI, Dr. Harris kerap mengingatkan pemerintah dan Kementerian BUMN tentang risiko finansial dan teknis yang diabaikan.

Baca Juga: Tragedi kematian Timothy Anugerah: 6 Mahasiswa pembuli dikenai sanksi nilai D, HIMASOS desak tindakan tegas

Ia menyoroti fenomena Escalation of Commitment (Staw, 1981), yakni kecenderungan pembuat kebijakan untuk terus mempertahankan keputusan keliru karena sudah telanjur banyak berinvestasi uang, waktu, dan reputasi.

“Proyek ini lahir bukan karena perhitungan rasional, tapi karena tekanan politik. Ia harus jadi, apa pun biayanya,” ujar Dr. Harris.

Dari Jepang ke Tiongkok: Antara diplomasi dan gengsi

Keputusan pemerintah berpindah dari Jepang ke Tiongkok sebagai kontraktor utama juga disebut sarat muatan politik.

Halaman:

Tags

Terkini