Pesantren sebagai jawaban generasi digital: Menjaga adab, menumbuhkan pikiran kritis

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Sabtu, 23 Agustus 2025 | 12:42 WIB
Aghitsna Waliyaz Zulfa, Mahasiswa tingkat ke-3 di Universitas al-Ahgaff, Tarim
Aghitsna Waliyaz Zulfa, Mahasiswa tingkat ke-3 di Universitas al-Ahgaff, Tarim

Baca Juga: Pakai rompi oranye, Noel acungkan jempol dan kepalkan tangan di konferensi pers KPK

Melawan stigma 'santri tak kritis'

Aghitsna menyesalkan stigma yang digiring sebagian kalangan di media sosial, seolah pesantren menjadikan santri pasif dan kolot.

“Itu apriori yang keliru. Di pesantren, kritik ilmiah tetap ada, bahkan dibiasakan, tapi selalu dalam bingkai adab,” tegasnya.

Ia mengutip pandangan ulama kontemporer Muhammad Awwamah yang menekankan keseimbangan antara kritik dan adab.

“Kalau kritik lebih dominan tanpa adab, murid bisa tidak sopan. Sebaliknya, adab tanpa kritik membuat ilmu tidak teruji,” tambahnya.

Baca Juga: Viral foto Wamenaker Immanuel Ebenezer dengan alat medis, KPK pastikan kondisi sehat

Tradisi kritis yang hidup

Tradisi bahtsul masail di pesantren menjadi bukti nyata. Santri bisa berdebat panas dengan kiai dalam forum ilmiah, namun tetap mencium tangan sang guru dengan hormat.

“Adab dan kritis itu seimbang, tidak bisa dipisahkan,” kata Aghitsna.

Ia menegaskan, pesantren yang menjaga tradisi keilmuan Islam justru melahirkan generasi yang beradab sekaligus kritis.

“Dengan sibuk pada kegiatan pesantren, santri tak sempat larut dalam tren imoral. Justru mereka bisa mengkritisi tren-tren itu dengan dasar ilmu,” pungkasnya.***

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X