Baca Juga: Pengamanan Nataru 2024-2025, Polres Subang siapkan 977 personel gabungan
“Saat ini, masih banyak manuskrip koleksi Kesultanan Cirebon, Jawa Barat, yang penting untuk dipelajari,” kata Aji Deni.
“Untuk itu, kita perlu ke Cirebon, dan karena kita tidak memahami bahasa Sunda maka kita perlu ditemani penerjemah yang bisa membaca teks-teks bahasa Sunda tersebut,” tambahnya.
Dosen Antropologi Universitas Khairun, Yanuardi Syukur turut menambahkan bahwa studi tersebut juga mencakup segala segala aktivitas Tuan Guru sebelum diasingkan Belanda (masa di Tidore dan Patani, Halmahera Tengah).
“Waktu di Cape Town, kami juga mendapat pesan dari seorang intelektual dan ulama di kampus IPSA agar intelektual Indonesia menulis terkait kehidupan Tuan Guru sebelum diasingkan ke Afrika Selatan,” ujarnya.
Baca Juga: Wakapolres Subang pimpin upacara Peringatan Hari Bela Negara Ke-76 tahun 2024
Yanuardi pun menjelaskan bahwa saat dirinya berada di Cape Town pada 11 Desember 2024 lalu dirinya memaparkan materi ‘Faith, science and civilization as the basis of cultural relations between Indonesian and South African society’
Dalam diskusi zoom tersebut juga bersepakat terkait pentingnya mengkaji buku kompendium berjudul ‘Ma’rifatul Islam wal Iman’ karya Tuan Guru, sebuah buku yang berisi berbagai panduan dalam berislam.
Selain itu, peserta diskusi bersepakat soal pentingnya menelusuri berbagai karya lainnya dari para sarjana dari dalam seperti yang ditulis Bunyamin Marasabessy berjudul ‘Tuan Guru: The Cape Muslim Philosophy Education System’ di jurnal Makara Human Behavior Studies in Asia, Universitas Indonesia.
Selain itu, diskusi juga memandang perlu studi lanjut buku yang disunting oleh Professor Mohammad Haron dan Ardhya Erlangga Arby berjudul ‘Evaluating Syaikh Yusuf Al-Makassari and Imam ‘Abdullah Tidore's Ideational Teachings: Reinforcing Indonesia-South Africa Relation’ yang diterbitkan oleh KBRI di Pretoria, Afrika Selatan tahun 2021.
Buku yang diberi pengantar oleh Menlu RI Retno Marsudi dan Dubes RI untuk Afsel Salman Al-Farisi serta berisi tulisan dari pakar seperti Azyumardi Azra, Luqman Rakiep, Mustari Mustafa, Yousuf Dadoo, Ebrahim Salie, Ebrahim Rhoda, Suleman Dangor dan Mustari Mustafa.
“Pada bagian kedua yang membahas terkait Tuan Guru, buku itu dimulai dengan puisi ‘immortal soul’ karya Luqman Rakiep yang sangat menarik,” lanjut Yanuardi.
Beberapa tulisan di dalamnya adalah berjudul ‘From Dar al-Islam to a Place of Sadness: Understanding the struggles of Tuan Guru of Tidore at the Cape of Good Hope 1780-1807’ karya Shafiq Morton.
Kemudian tulisan ‘Tuan Guru’s Educational influence on the colonial Cape Muslims (circa 18th and 19th centuries): A Synopsis’ karya Ebrahim Salie yang disusul tulisan ‘Tuan Guru: His Relevance in the 21st Century’ karya Luqman Rakiep and Muttaqin Rakiep dan ‘Da’wah During the Dutch and British Colonial Period’ karya Ebrahim Rhoda.
Artikel Terkait
Dr. Imran hadiri opening ceremony MTQ ke-38 tingkat Provinsi Jawa Barat
Ketua DPD RI paparkan tiga tantangan yang dihadapi bangsa-bangsa dan tiga modal yang dimiliki Indonesia menuju negara yang kuat
Peringati Maulid Nabi, DKM Mesjid Nurul Firdaus Jalancagak Subang gelar tabligh akbar
Raih juara kompetisi essay, sosok gadis belia membuka mata kita tentang pemandangan laut yang keruh menjadi indah
Konferensi Mufasir Muhammadiyah Kedua akan digelar di Jakarta, ini tanggal dan rangkaian acaranya
Konferensi Mufasir Muhammadiyah II, Abdul Mu'ti: Al-Qur’an sebagai pedoman dinamis bagi kehidupan
Prabowo sebut Indonesia dan Mesir miliki kesamaan memandang Islam moderat: Junjung tinggi toleransi dan perdamaian