DCII punya eksposur langsung ke bisnis data center
Untuk DCII, Kiwoom melihat keterkaitan yang lebih langsung dengan pertumbuhan permintaan penyewaan kapasitas data center dalam negeri.
“DCII merupakan eksposur paling langsung terhadap penyewaan kapasitas data center dalam negeri, terutama dari pelanggan cloud besar dan komputasi AI. Rekam jejak operasionalnya menjadi keunggulan,” tulis Kiwoom.
Laporan keuangan DCII tahun buku 2025 menunjukkan pendapatan sebesar Rp2,54 triliun, meningkat 40,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 25,7 persen menjadi sekitar Rp1 triliun.
Baca Juga: Bansos beras 30 kg lanjut sampai akhir tahun 2026, siapa yang berhak mendapatkan?
Dari sisi arus kas, arus kas operasi DCII mencapai Rp1,54 triliun. Sementara itu, pengeluaran kas untuk perolehan aset tetap tercatat Rp1,72 triliun.
Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan investasi dalam pengembangan bisnis perseroan.
Pada 25 September 2026, saham DCII berada di level Rp198.000. Dengan laba per saham 2025 sebesar Rp420, perhitungan menghasilkan PER historis sekitar 471 kali.
Perhitungan tersebut menggunakan laba tahun buku 2025, bukan proyeksi maupun laba 12 bulan terakhir.
Baca Juga: Insiden Bekasi Timur: Masinis KA Argo Bromo Anggrek jadi tersangka, terancam penjara hingga 12 tahun
Kiwoom juga menempatkan keterisian kapasitas baru, kontrak pelanggan, hasil belanja modal, valuasi, dan likuiditas saham sebagai sejumlah faktor yang perlu dipantau.
DSSA punya bisnis data center dalam struktur grup
Berbeda dengan DCII, penilaian terhadap DSSA perlu mempertimbangkan struktur grup yang memiliki beragam lini usaha.