“Kami ke tempat paling tinggi, ke loteng. Air di bawah sudah mau mencapai tangga, barang-barang mulai mengapung,” lanjutnya.
Kekhawatiran air terus naik membuat warga akhirnya mengevakuasi diri ke rooftop rumah. Demi keselamatan, mereka memilih terjaga semalaman.
Baca Juga: Ramadan kian dekat, warga Desa Sekumur Aceh Tamiang masih bertahan di tenda pascabanjir
“Kami takut kalau tertidur air bisa sampai ke atas, jadi melek sampai pagi,” ujarnya.
Bangun tenda dan bertahan 12 hari di rooftop
Dalam rekaman lanjutan, terlihat warga mendirikan tenda darurat di rooftop rumah. Mereka membawa bekal seadanya serta peralatan masak yang masih bisa diselamatkan.
“Kami naik ke rooftop dan bangun tenda. Bawa bekal makanan dan alat masak. Total 12 hari kami bertahan menunggu banjir surut,” paparnya.
Selama masa tersebut, warga menghadapi keterbatasan air bersih, makanan yang tidak steril, serta harus bertahan dari hujan malam dan terik matahari siang hari.
Baca Juga: Viral curhat guru PPPK Sumedang terima gaji Rp50 ribu, dipotong BPJS tersisa Rp15 ribu
“Kami bersihkan lumpur rumah masing-masing, bertahan hidup tanpa air bersih, tapi kami semua saling bantu, saling jaga, dan saling kerja sama. Masya Allah,” ungkapnya.
Aceh masih tanggap darurat
Hingga kini, beberapa wilayah di Aceh seperti Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya masih berstatus tanggap darurat.
Meski Provinsi Aceh telah memasuki fase transisi darurat menuju pemulihan, sejumlah daerah masih membutuhkan distribusi logistik dan akses bantuan yang merata.
Kisah warga Aceh Tamiang ini menjadi potret nyata ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana, sekaligus pengingat kuatnya nilai solidaritas di tengah situasi krisis.***