Rhenald Kasali: Proyek besar harus punya visi jangka panjang
Sejalan dengan itu, praktisi bisnis dan akademisi Prof. Rhenald Kasali juga menyoroti fenomena proyek raksasa yang berhenti di tengah jalan, salah satunya mega proyek Meikarta yang disebut bernilai investasi Rp278 triliun.
Dalam siniar YouTube pribadinya yang tayang Senin 10 November 2015, Rhenald menilai proyek-proyek seperti Meikarta mencerminkan lemahnya kesinambungan antar-pemerintahan serta indikasi kurangnya perencanaan jangka panjang.
“Bagaimana tuh kabarnya Meikarta? Itu dulu 278 triliun investasinya. Ini Indonesia ingin maju tapi juga membiarkan segala sesuatu mangkrak,” ujarnya.
Menurutnya, banyak proyek besar berhenti bukan karena tidak berguna, tetapi karena pemerintah penerus mengabaikan program pendahulunya.
“Mangkrak juga karena penerusnya mengabaikan, pendahulunya sangat mengaitkan dengan dirinya,” sambung Rhenald.
Belajar dari China: Bangun sekarang, panen 20 tahun kemudian
Rhenald kemudian membandingkan situasi Indonesia dengan China, yang dua dekade lalu membangun infrastruktur besar-besaran meski belum digunakan optimal saat itu.
“Saya masih ingat, 20 tahun lalu ketika pergi ke Cina, kita bisa menyaksikan infrastruktur besar saat itu tidak ramai. Tapi sekarang bukan hanya jalanan yang besar, jembatan, saluran air, sampai gorong-gorongnya pun besar sekali,” ungkap Rhenald.
Ia mengatakan, visi jangka panjang China terbukti berhasil menopang pertumbuhan ekonominya saat ini.
“Rupanya, itu dipersiapkan untuk 20 tahun mendatang,” ujarnya.
Rhenald menilai, Indonesia seharusnya meniru pendekatan itu, bukan sekadar membangun proyek besar untuk kepentingan politik jangka pendek.
“Perlu diingat, di seluruh penjuru Tanah Air banyak sekali bangunan infrastruktur yang kini terancam mangkrak. Padahal kalau kita hidupkan itu, bisa jadi mesin penggerak ekonomi kita,” tandasnya.***