Percakapan antara korban dan pelaku yang turut dibagikan memperlihatkan respons dewasa dari pemilik mobil.
Ia mengaku tidak mempermasalahkan goresan tersebut, namun justru mengapresiasi kejujuran yang ditunjukkan.
Baca Juga: Tanah bergerak di Jatinegara Tegal, warga was-was di malam hari hingga dijanjikan relokasi
“Hal seperti ini mungkin sering terjadi, tapi yang sangat jarang adalah pengakuan jujur dari rasa bersalah,” tulis sang pemilik mobil.
Korban menegaskan dirinya tidak mempermasalahkan insiden itu dan justru merasa salut atas sikap bertanggung jawab sang ibu.
'Ternyata lucu pelakunya'
Dalam balasan chat, sang ibu kemudian mengirimkan foto anaknya sambil menjelaskan kronologi kejadian secara sederhana.
“Biasanya saya pegangin pintunya, tapi tadi bocilnya buka terlalu lebar,” tulisnya.
Baca Juga: Putus rantai tengkulak, Polri fasilitasi KUR dan penyerapan bulog bagi petani jagung
Respons sang korban pun tak kalah mengundang senyum.
“Ternyata lucu pelakunya. Doa dan harapan yang sama untuk Bapak/Ibu,” balasnya.
Berakhir damai dan saling simpan kontak
Insiden yang awalnya berpotensi menimbulkan konflik justru berakhir damai. Bahkan, korban dan pelaku sepakat untuk saling menyimpan kontak sebagai bentuk silaturahmi.
“Mungkin kita dipertemukan untuk hal yang lebih baik ke depannya,” tulis sang pemilik mobil.
Baca Juga: Deretan brand otomotif luncurkan produk baru dan aktivitas seru di IIMS 2026
Artikel Terkait
Pengungsi Aceh jamui relawan dari dapur umum, kisah berbagi di tengah duka banjir bikin haru
Dua butir telur dibagi untuk 23 orang, kisah warga Aceh Tamiang bertahan hidup tiga hari pascabanjir
Jalan kaki 9 jam demi sembako, kisah ibu di Tapanuli Tengah buka wajah buram distribusi bantuan bencana
Bermalam di hutan hingga makan ubi mentah, kisah pilu ibu di Tapanuli Tengah bertahan hidup saat longsor menerjang
Di tengah banjir Aceh Tamiang, kisah ayah selamatkan kucing peliharaan ini bikin haru warganet
Kisah relawan Bener Meriah yang tetap salurkan bantuan meski baru kehilangan ibu
Kisah Ustaz Deni di Ciparay, mengajar 85 anak ngaji tanpa bayaran meski hidup serba kekurangan