Bermalam di hutan hingga makan ubi mentah, kisah pilu ibu di Tapanuli Tengah bertahan hidup saat longsor menerjang

photo author
Ghin Ninda Wr, Genmilenial
- Selasa, 23 Desember 2025 | 16:28 WIB
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan (TikTok/zaits_bf)
Tangkapan layar seorang warga Tapanuli Tengah yang mengenang bagaimana banjir dan longsor menerjang rumahnya dan memaksa mereka tidur di hutan (TikTok/zaits_bf)

Kondisi semakin sulit ketika akses jalan menuju lokasi aman tertutup longsor di berbagai titik. Tidak ada jalur evakuasi yang bisa dilalui, membuat warga terjebak di wilayah bencana.

Baca Juga: Perjuangan relawan tembus jalur putus di Bener Meriah demi antar logistik korban banjir: Sedih lihat warga jalan kaki cari makan

“Di sini longsor, di sana longsor, jadi enggak ada jalan, jadi kami satu malam tidur di hutan,” lanjutnya.

Hutan menjadi satu-satunya tempat berlindung sementara dari terjangan hujan dan ancaman longsor susulan.

Dalam gelap dan dingin, mereka bertahan dengan rasa takut yang terus menghantui.

Anak menggigil di tengah dingin malam

Puncak kepedihan sang ibu adalah saat melihat anak-anaknya harus bertahan di tengah udara dingin tanpa perlindungan memadai.

Baca Juga: Krisis air bersih pascabanjir, warga Aceh Tamiang terpaksa gunakan air sumur keruh demi bertahan hidup

Seluruh pakaian basah kuyup akibat hujan dan banjir, sementara rumah yang biasa menjadi tempat berteduh sudah rata dengan tanah.

“Karena tidak ada baju ganti, anakku tertidur tapi menggigil,” tuturnya dengan suara bergetar.

Tak ada selimut, tak ada pakaian kering, hanya pelukan dan doa yang bisa ia berikan pada anak-anaknya di tengah hutan.

Potret trauma warga pelosok pascabencana

Kisah dari Desa Mardame ini menjadi potret nyata betapa beratnya penderitaan warga di daerah pelosok ketika bencana alam melanda.

Baca Juga: Momen anak-anak pengungsi Aceh ‘paksa’ relawan makan roti bareng: Kita makan bersama om

Keterbatasan akses membuat bantuan sulit segera menjangkau para penyintas, meninggalkan trauma mendalam bagi mereka yang selamat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ghin Ninda Wr

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X