Selain medan berat, cuaca ekstrem turut memperparah kondisi di lapangan. Hujan deras yang mengguyur kawasan pegunungan membuat jalur semakin berbahaya dan licin.
Baca Juga: Bikin haru! Kepolosan bocah pengungsi Aceh Tamiang lompat kegirangan saat dapat bantuan baju baru
Meski demikian, warga tetap memaksakan diri berjalan cepat demi menghindari risiko longsor.
“Semalam kami hujan-hujanan. Pokoknya di jalan gunung itu kami lari-lari saja,” tuturnya mengenang momen mencekam selama perjalanan.
Rasa takut akan ancaman longsor dan bahaya alam lainnya membuat mereka harus bergerak cepat, meski kondisi fisik semakin terkuras.
Bagi warga, keselamatan tetap menjadi prioritas utama di tengah keterpaksaan.
Baca Juga: Ingin menginap di hotel di kawasan Canggu? Ini rekomendasi nyaman dan terjangkau
“Mau bagaimana lagi, nyawa lebih penting,” imbuhnya dengan nada pasrah namun tegar.
Luka tak terasa demi perut keluarga
Perjuangan itu bahkan membuat rasa sakit seolah tak lagi dirasakan.
Kaki yang tertusuk duri atau terluka akibat medan tajam dianggap sebagai risiko yang harus diterima demi membawa pulang bahan pangan untuk keluarga.
“Kadang kena duri kaki kami tidak terasa,” tutupnya.
Kisah warga Sibolga ini menjadi potret nyata beratnya distribusi bantuan di wilayah terdampak bencana yang terisolasi secara geografis.
Perjuangan mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik setiap bantuan yang tiba, ada taruhannya, tenaga, air mata, bahkan nyawa.***
Artikel Terkait
Tak punya uang, punya tenaga: Pemuda Aceh rela jalan puluhan kilometer jual cabai demi korban banjir
Air mata bahagia di posko pengungsian Aceh Tamiang, seorang ayah akhirnya bisa video call anaknya
Korban banjir Aceh Tamiang beri semangat untuk Mualem: Konflik dan tsunami saja kita sudah hadapi
Akademisi soroti pernyataan kontroversial Kepala BNPB soal banjir Sumatera: Masalahnya ada pada informasi lapangan
Banjir dan longsor Sumatera masuk ranah pidana, Satgas PKH petakan perusahaan terindikasi
Hujan masih terus turun, akademisi khawatir pemulihan pascabencana Sumatera akan berlangsung lama
Ferry Irwandi ungkap harapan baru warga Aceh Tengah, panen cabe bangkitkan ekonomi pascabencana