Banjir bandang di Aceh Tamiang terjadi akibat curah hujan tinggi berhari-hari, memicu luapan sungai hingga memutus jalur transportasi.
Ribuan warga terpaksa mengungsi dengan kondisi yang sangat terbatas.
Banyak di antara mereka hanya membawa pakaian yang menempel di badan saat menyelamatkan diri dari arus banjir.
Hingga kini, kebutuhan logistik seperti makanan siap saji, air bersih, perlengkapan sanitasi, dan penerangan menjadi prioritas utama.
Para penyintas berharap distribusi bantuan dapat segera menjangkau seluruh titik pengungsian yang masih terisolasi.
Harapan pengungsi: Bertahan hari ini, bangkit esok
Di tengah situasi yang berat, para penyintas Aceh Tamiang masih menyimpan harapan agar bencana segera berlalu.
Mereka berharap adanya perhatian yang lebih menyeluruh, bukan hanya dalam bentuk bantuan makanan tetapi juga kebutuhan dasar lain yang sering terlewat, seperti penerangan dan perlengkapan tidur.
Kisah pengungsi ini menjadi pengingat bahwa dalam situasi bencana, nilai hidup berubah drastis, dari yang semula mengejar penghasilan menjadi sekadar memastikan keluarga tetap bisa makan dan bertahan melewati malam yang gelap.***
Artikel Terkait
Gubernur Aceh buka pintu bantuan internasional, soroti Tim China hingga imbau warga tak ambil kesempatan
Anggota DPRD Subang H. Anharudin: Bencana Sumatera cermin kerusakan lingkungan
Bibit Siklon Tropis 93W dan 91S muncul bersamaan, BMKG peringatkan potensi hujan lebat dan gelombang tinggi
Jubir PKS desak pemerintah untuk segera menetapkan banjir-longsor Sumatera sebagai bencana nasional
Seorang ibu di Aceh Utara kehilangan suami dan putra bungsunya saat banjir bandang, sisakan kenangan sebuah foto kecil
Prediksi hujan lebat masih bayangi Sumatera Utara, BMKG jelaskan kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S
Kontroversi Ferry Irwandi vs Anggota DPR Endipat Wijaya soal aksi udunan warga Rp10 miliar untuk korban bencana Sumatera