'Uang tidak berharga, makanan yang penting’: Suara pengungsi Aceh Tamiang di tengah gelapnya tenda darurat

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Rabu, 10 Desember 2025 | 16:01 WIB
Tangkapan layar seorang pengungsi di Aceh Tamiang yang menyebut makanan lebih penting di tenda pengungsian dibandingkan uang (Facebook/Charren Ladyong Yekching)
Tangkapan layar seorang pengungsi di Aceh Tamiang yang menyebut makanan lebih penting di tenda pengungsian dibandingkan uang (Facebook/Charren Ladyong Yekching)

GENMILENIAL.ID— Bencana banjir bandang yang mengguncang Aceh Tamiang tidak hanya merusak rumah dan harta benda warga, tetapi juga mengubah cara para penyintas memandang nilai hidup.

Di tengah tenda-tenda darurat yang gelap tanpa penerangan, kebutuhan paling mendesak ternyata bukan lagi uang, melainkan makanan dan lilin untuk bertahan melewati malam.

Seorang pengungsi pria menceritakan langsung kondisi yang dialaminya dalam sebuah video yang diunggah akun Facebook Charren Ladyong Yekching pada Selasa, 9 Desember 2025.

Baca Juga: Bocah Aceh ceritakan detik-detik saat banjir bandang, mengira hari itu adalah hari terakhir hidupnya

Dengan suara yang terdengar lelah namun tetap tegar, ia mengungkapkan bahwa nilai uang seketika hilang di tengah bencana yang merenggut segalanya.

“Kalau uang kami tidak minta, uang tidak berharga, makanan yang penting,” ujarnya.

Pernyataannya mencerminkan situasi darurat yang dialami ratusan warga Aceh Tamiang yang kini bergantung sepenuhnya pada bantuan logistik setelah banjir bandang memutus akses, menenggelamkan rumah, serta memaksa mereka mengungsi tanpa sempat menyelamatkan barang berharga.

Lilin menjadi kebutuhan mendesak

Tidak hanya makanan, kebutuhan lain yang sangat dirasakan para pengungsi adalah penerangan.

Baca Juga: Astra Tol Cipali beri diskon tarif 20 persen untuk arus mudik dan balik Nataru 2025-2026

Malam di tenda pengungsian terasa lama, gelap, dan menakutkan bagi banyak warga, terutama anak-anak yang masih trauma setelah menyaksikan langsung amukan banjir.

“Lilin penerangan tidak ada, boleh-boleh dibagikan,” tuturnya lagi.

Ketiadaan sumber cahaya membuat aktivitas dasar seperti makan, beristirahat, menjaga anak, hingga memantau kondisi sekitar menjadi sulit dilakukan.

Aceh Tamiang salah satu wilayah paling terdampak

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X