GENMILENIAL.ID— Bencana banjir bandang yang mengguncang Aceh Tamiang tidak hanya merusak rumah dan harta benda warga, tetapi juga mengubah cara para penyintas memandang nilai hidup.
Di tengah tenda-tenda darurat yang gelap tanpa penerangan, kebutuhan paling mendesak ternyata bukan lagi uang, melainkan makanan dan lilin untuk bertahan melewati malam.
Seorang pengungsi pria menceritakan langsung kondisi yang dialaminya dalam sebuah video yang diunggah akun Facebook Charren Ladyong Yekching pada Selasa, 9 Desember 2025.
Baca Juga: Bocah Aceh ceritakan detik-detik saat banjir bandang, mengira hari itu adalah hari terakhir hidupnya
Dengan suara yang terdengar lelah namun tetap tegar, ia mengungkapkan bahwa nilai uang seketika hilang di tengah bencana yang merenggut segalanya.
“Kalau uang kami tidak minta, uang tidak berharga, makanan yang penting,” ujarnya.
Pernyataannya mencerminkan situasi darurat yang dialami ratusan warga Aceh Tamiang yang kini bergantung sepenuhnya pada bantuan logistik setelah banjir bandang memutus akses, menenggelamkan rumah, serta memaksa mereka mengungsi tanpa sempat menyelamatkan barang berharga.
Lilin menjadi kebutuhan mendesak
Tidak hanya makanan, kebutuhan lain yang sangat dirasakan para pengungsi adalah penerangan.
Baca Juga: Astra Tol Cipali beri diskon tarif 20 persen untuk arus mudik dan balik Nataru 2025-2026
Malam di tenda pengungsian terasa lama, gelap, dan menakutkan bagi banyak warga, terutama anak-anak yang masih trauma setelah menyaksikan langsung amukan banjir.
“Lilin penerangan tidak ada, boleh-boleh dibagikan,” tuturnya lagi.
Ketiadaan sumber cahaya membuat aktivitas dasar seperti makan, beristirahat, menjaga anak, hingga memantau kondisi sekitar menjadi sulit dilakukan.
Aceh Tamiang salah satu wilayah paling terdampak
Artikel Terkait
Gubernur Aceh buka pintu bantuan internasional, soroti Tim China hingga imbau warga tak ambil kesempatan
Anggota DPRD Subang H. Anharudin: Bencana Sumatera cermin kerusakan lingkungan
Bibit Siklon Tropis 93W dan 91S muncul bersamaan, BMKG peringatkan potensi hujan lebat dan gelombang tinggi
Jubir PKS desak pemerintah untuk segera menetapkan banjir-longsor Sumatera sebagai bencana nasional
Seorang ibu di Aceh Utara kehilangan suami dan putra bungsunya saat banjir bandang, sisakan kenangan sebuah foto kecil
Prediksi hujan lebat masih bayangi Sumatera Utara, BMKG jelaskan kemunculan Bibit Siklon Tropis 91S
Kontroversi Ferry Irwandi vs Anggota DPR Endipat Wijaya soal aksi udunan warga Rp10 miliar untuk korban bencana Sumatera